Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.
Namun di sisi lain, ada sentimen negatif yang menjadi beban bagi harga emas yaitu tren kenaikan imbal hasil (yield) obligasi. Kemarin, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2 bps ke 5,304%. Ini menjadi yang tertinggi sejak Maret 2022 atau lebih dari 4 tahun terakhir.
Sebagai non-yielding asset, emas menjadi kurang menarik saat instrumen lain memberikan cuan yang lebih besar. Dua sentimen tersebut berkelindan sehingga pada akhirnya harga emas sulit ke mana-mana.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini, Selasa (6/10/2026)? Apakah bisa bangkit atau justru makin terjepit?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas masih terjebak di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 38. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Kemudian indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 22. Menghuni area jual (short) yang sangat kuat, bahkan hampir jenuh (oversold).
Untuk perdagangan hari ini, harga emas berpeluang naik. Cermati pivot point di US$ 4.141/troy ons.
Dari situ, ada harapan harga emas bisa mengetes resisten US$ 4.151/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika tertembus, maka MA-10 di US$ 4.190/troy ons bisa menjadi target berikutnya.
Namun kalau harga emas turun lagi, maka US$ 4.126/troy ons rasanya bisa menjadi support terdekat. Penembusan di titik itu berisiko melongsorkan harga ke US$ 4.119/troy ons.
(aji)


























