Karena lokasi kebakaran di Ketapang cukup jauh dan sulit dijangkau timnya, Bimpi mengatakan relawan memprioritaskan penanganan di sekitar Pontianak dan Kubu Raya.
Kabut asap, kata dia, tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada fasilitas pendidikan dan kebutuhan sehari-hari. Sejumlah sekolah sempat diliburkan, sementara air di wilayahnya menjadi asin.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan Bimpi karena dia memiliki bayi yang baru lahir. Air yang asin membuat kebutuhan rumah tangga, termasuk mencuci pakaian bayi, menjadi lebih sulit.
“Karena punya bayi, prioritas untuk cuci baju pakaian bayi yang susah karena airnya asin. Sampai sekarang airnya juga masih asin,” ujarnya.
Sementara itu, Pralensa atau yang biasa dipanggil Kak Jai, warga Desa Lebung Itam, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, mengatakan masyarakat di wilayahnya telah menghadapi kabut asap selama berbulan-bulan akibat kebakaran lahan gambut.
Dia menyebut ribuan hektare lahan gambut di wilayah desanya terbakar. Kondisi tersebut membuat masyarakat setiap hari harus beraktivitas di tengah udara yang bercampur asap.
“Yang kami rasakan setiap hari, kami cuma bisa menghirup asap, udara bercampur asap. Situasi kami saat ini sangat buruk. Sudah berbulan-bulan kami mengalami hal ini karena terbakarnya lahan gambut yang ada di wilayah saya,” kata Kak Jai.
Menurut dia, upaya pemadaman juga menghadapi kendala karena ketersediaan air semakin terbatas. Masyarakat bahkan mencoba menggali sumur secara manual, tetapi tidak mendapatkan air meski telah mencapai kedalaman sekitar 3–4 meter.
Dampak kesehatan juga dirasakan keluarganya. Kak Jai mengatakan istrinya memiliki riwayat asma sehingga tidak bisa leluasa keluar rumah ketika musim kabut asap. Paparan udara bercampur asap dapat memicu kambuhnya penyakit tersebut.
“Kalau masalah pengaruh, sangat berpengaruh. Yang pasti aktivitas dan kesehatan,” ujarnya.
Dia mengatakan masyarakat juga harus menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Kondisi kabut asap membuat warga tidak leluasa menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dari Palembang, Sumatra Selatan, Kartika mengatakan kondisi kualitas udara di kota tersebut juga semakin mengkhawatirkan. Dia menyebut kondisi ISPU pada pagi hari mencapai angka 1.702, berdasarkan data yang mereka pantau.
Kartika juga menyoroti dampak kabut asap terhadap anak-anak. Menurut dia, kegiatan belajar mengajar untuk siswa hingga tingkat SMA telah dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ).
“Untuk anak-anak semuanya, bahkan sampai tingkat SMA, hari ini langsung dinyatakan untuk PJJ. Tentu saja ini sangat mengganggu aktivitas belajar anak-anak kami, bukan hanya dari SD, tapi dari SD, SMP sampai SMA,” katanya.
Kartika juga mengungkapkan adanya peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan. Berdasarkan informasi yang diperolehnya dari tenaga kesehatan, sejumlah anak harus mendapatkan tindakan medis seperti nebulizer akibat kondisi asap yang buruk.
Dia sendiri mengaku mengalami reaksi pada kulit ketika terpapar kondisi udara tersebut. Kartika mengatakan sebelumnya mengira rasa gatal yang dialaminya berkaitan dengan pola konsumsi makanan, tetapi kemudian mendapat penjelasan dokter bahwa paparan debu juga dapat berpengaruh.
Sementara itu, dampak kabut asap juga dirasakan hingga negara tetangga. Muhammad Syahir dari Kuala Lumpur mengatakan putrinya baru-baru ini harus dirawat di rumah sakit selama lima hari setelah mengalami gangguan kesehatan yang didiagnosis sebagai bronkitis dan infeksi mikoplasma.
Syahir mengatakan kondisi putrinya bermula dari demam dan munculnya dahak. Pada hari ketiga, kondisinya memburuk dengan detak jantung meningkat dan kesulitan bernapas.
“Sebagai orang tua, sangat menyedihkan bagi saya melihatnya dan menjaganya di rumah sakit,” kata Syahir.
Setelah mendapatkan perawatan, dokter dan dokter anak menyarankan putrinya menggunakan masker karena kondisi paru-parunya masih sensitif.
Dampak serupa juga dirasakan masyarakat Singapura. Perwakilan Climate Rally Singapura mengatakan kualitas udara di negara tersebut berubah-ubah, dengan sejumlah hari mengalami kondisi yang lebih buruk.
Dia mengatakan aktivitas luar ruangan tidak disarankan ketika kualitas udara memburuk. Dirinya juga mengalami kesulitan bernapas dalam beberapa pekan terakhir karena memiliki alergi rhinitis.
“Saya juga mengalami kesulitan bernapas dalam beberapa minggu terakhir,” ujarnya.
Dokter spesialis paru dari Kalimantan Tengah, Faber, mengatakan peningkatan kasus gangguan pernapasan memang dirasakan masyarakat seiring terjadinya kebakaran hutan dalam beberapa bulan terakhir.
Dia menyebut kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) meningkat, khususnya di Palangkaraya.
“Memang kasus ISPA sangat-sangat tinggi. Memang Kalimantan Tengah, khususnya Palangkaraya, kasus infeksi saluran napas, ISPA, kasus asma dan PPOK juga semakin tinggi diakibatkan oleh dampak kebakaran hutan,” kata Faber.
Menurut Faber, kabut asap dapat berdampak terhadap seluruh lapisan masyarakat, tetapi kelompok seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan penyakit penyerta memiliki risiko lebih besar.
Dia menjelaskan asap kebakaran hutan mengandung berbagai partikel dan gas yang dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan. Paparan dalam waktu lama dan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang sebelumnya telah memiliki penyakit seperti asma, PPOK, atau penyakit kardiovaskular.
Faber mengatakan kondisi kabut asap di Palangkaraya saat ini cenderung fluktuatif. Pada pagi dan siang hari, asap terkadang tidak terlalu tebal, tetapi dapat kembali menebal pada sore hingga malam hari, bergantung pada kondisi angin.
Dia mengimbau masyarakat mengurangi paparan asap dengan menggunakan masker, menjaga pola hidup sehat, serta membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan.
Meski demikian, pengalaman warga di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada persoalan kualitas udara. Kabut asap juga mengganggu pendidikan, aktivitas ekonomi dan sosial, kesehatan keluarga, hingga akses terhadap kebutuhan dasar seperti air.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak, kondisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama kebakaran lahan dan hutan masih berlangsung.
(dec/spt)




























