Pengiriman ke luar wilayah Teluk dapat membantu Irak menjangkau kilang-kilang minyak yang enggan mengirim kapal melalui Selat Hormuz serta memperoleh harga yang lebih baik, sehingga mengurangi besaran diskon yang biasanya diperlukan untuk menarik pembeli ke terminal-terminal di wilayah selatannya.
Produsen minyak di seluruh Timur Tengah tengah berupaya keras mengamankan kapal tanker guna mendukung kemampuan mereka memulihkan aliran minyak mentah dan bahan bakar olahan melalui selat tersebut, menyusul gangguan yang disebabkan oleh perang di Iran.
Divisi pelayaran Abu Dhabi National Oil Co termasuk di antara perusahaan yang sedang meningkatkan kapasitas armada tankernya.
Irak juga sedang mencari pendanaan untuk membeli kapal tanker bagi perusahaan tersebut, kata Menteri Perminyakan Basim Mohammed Khudair kepada kantor berita milik negara pada Sabtu.
Memiliki kapal sendiri akan mendukung kegiatan ekspor dan meningkatkan keuntungan finansial, ujarnya, tanpa merinci berapa banyak kapal tanker yang ingin dibeli.
Qais mengungkap upaya perusahaan untuk membeli kapal tanker akan memberi Baghdad kendali lebih besar atas pengiriman minyak mentah saat Irak berusaha bersaing dengan produsen regional.
Dia tidak menyebut VLCC yang digunakan untuk pengiriman pertama di luar Selat Hormuz, maupun pemiliknya, tujuan akhir, dan pembeli minyak mentah tersebut.
Bulan lalu, ekspor minyak mentah Irak rata-rata mencapai sekitar 2,6 juta barel per hari selama periode hingga 21 September, kata kementerian tersebut. Angka ini naik dari sekitar 2 juta barel per hari pada Agustus, tetapi tetap di bawah volume ekspor harian sebesar 3,3 juta hingga 3,5 juta barel yang dikirim sebelum perang.
Baghdad juga sedang mengupayakan jalur ekspor alternatif, termasuk rute utara melalui Turki dan rencana pembangunan pipa menuju pelabuhan Baniyas di Suriah.
(bbn)




























