Penurunan spekulasi suku bunga ini mendorong penguatan pasar saham Wall Street dan mendorong apresiasi nilai tukar rupiah hingga ke level Rp17.882 per dolar AS.
Indeks saham MSCI Asia Pacific naik 0,4%, dengan saham Jepang melonjak 2%. Kontrak Nasdaq 100 naik 0,3% setelah indeks acuannya ditutup pada rekor tertinggi pada Jumat dan indeks saham semikonduktor AS juga menguat.
“Data ketenagakerjaan September yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin seperti Goldilocks menambah ekspektasi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga lagi bulan ini,” tulis Shane Oliver, kepala ekonom sekaligus kepala strategi investasi di AMP Ltd., dalam sebuah catatan.
Kendati demikian, minyak Brent untuk pengiriman Desember naik menembus US$103 per barel pada awal perdagangan Senin sebelum memangkas kenaikan tersebut, setelah kontrak itu menguat hampir 5% pekan lalu. Harga minyak tetap naik meski negara-negara utama OPEC+ sepakat untuk mempertahankan kuota produksi bulan depan.
Jenuh Jual
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menilai IHSG secara teknikal sudah berada dalam kondisi jenuh jual (extremely oversold) dan membentuk pola golden cross.
"Sentimen eksternal ini berpotensi memberikan katalis positif pada awal pekan, khususnya bagi saham growth dan emiten yang sensitif terhadap suku bunga," ujarnya dalam riset, Senin (5/10/2026).
Mirae Asset menetapkan area support IHSG di level 5.973 & 5.851 serta resistance pada 6.180 & 6.335.
Pada akhir pekan lalu, Jumat (2/10/2026), IHSG ditutup menguat 0,46% ke level 6.036. Kendati berhasil bertahan di atas level psikologis 6.000, laju IHSG masih dibayangi aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing yang mencapai Rp1,31 triliun.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG akan menguji rentang support 6.000–5.854 dan resistance 6.100–6.110.
Menurut analis BRI Danareksa, jika IHSG mampu menembus batas resistance 6.110, ruang penguatan teknikal akan terbuka lebih lebar.
"Untuk perdagangan hari ini, BRI Danareksa merekomendasikan saham ENRG, COCO, dan DSSA," ungkap BRI Danareksa dalam riset.
Selain menantikan data global seperti ISM Services dan Fed Minutes, pelaku pasar domestik pekan ini juga akan mencermati rilis Cadangan Devisa pada Rabu, (7/10/2026) serta Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Kamis (8/10/2026).
Masuknya kuartal IV-2026 turut membuka peluang October Effect, di mana investor cenderung memanfaatkan momentum ini untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat menjelang musim rilis laporan keuangan Kuartal III-2026.
(smr/naw)


























