Selain itu, emas juga merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat instrumen lain menawarkan imbalan tinggi.
Apresiasi dolar AS dan terkereknya yield US Treasury disebabkan oleh ekspektasi bahwa bank sentral Federal Reserve bakal menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Bisa saja tidak bulan ini, karena berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat Oktober tinggal 22,1%.
Akan tetapi, sepertinya kenaikan akan terjadi dalam rapat Desember. Menurut CME FedWatch, probabilitas ke arah sana mencapai 68%.
“Emas rasanya lebih cepat merespons kemungkinan kenaikan suku bunga ketimbang penurunan,” sebut Suki Cooper, Global Head of Commodity Research di Standard Chartered, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana prediksi harga emas untuk minggu depan? Apakah bisa bangkit atau justru kian terjepit?
Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas masih terjebak di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 42. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Lalu indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 26. Sudah di bawah 30 yang berarti tergolong jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan pekan depan, harga emas berpeluang naik. Koreksi yang sudah lumayan dalam berpotensi melahirkan technical rebound.
Cermati pivot point di US$ 4.306/troy ons. Dari situ, harga emas bisa saja menguji resisten US$ 4.337-4.449/troy ons.
Target paling optimistis adalah US$ 4.502/troy ons.
Namun jika harga emas malah turun lagi, maka US$ 4.082-4.073/troy ons bisa menjadi level support terdekat. Jika tertembus, maka US$ 4.011-3.954/troy ons bisa menjadi target berikutnya.
(aji)



























