"Jadi dengan teknologi Norwegia, ini kita harapkan asistensi dari mereka juga, apa yang kita miliki dan juga pengalaman mereka mengembangkan PLTA di wilayah mereka, itu justru bisa kita adopt," tegasnya.
Selain itu, Yuliot menyatakan sempat melakukan pertemuan dengan perwakilan Amerika Serikat (AS) untuk menjajaki kerja sama pengembangan hidrogen untuk sumber energi.
Dia menyatakan Indonesia memiliki sumber daya hidrogen yang cukup besar, tetapi belum dapat diekstraksi dan belum dimanfaatkan.
"Ini kita kan memiliki indikasinya, cadangan hidrogen yang bisa ditambang cukup besar, tapi ini kita belum mengusahakan. Jadi kita ini akan kerja sama juga dengan beberapa perusahaan dari Amerika," ujar Yuliot.
Adapun, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi membeberkan realisasi capaian EBT dalam bauran energi primer nasional yang baru menyentuh angka 17,3% pada kuartal II ini, turun tipis dari kuartal I yang sempat berada di level 18,3%.
Eniya menegaskan pasokan energi nasional saat ini masih sangat didominasi oleh batu bara dan minyak bumi, sehingga diperlukan kerja keras untuk mencapai target pemanfaatan EBT sebesar 30% pada 2034.
"Dalam pasokan energi nasional, batu bara dan minyak bumi masih sangat mendominasi. Saat ini kita memiliki target rancangan strategis nasional dari Bappenas yang harus dicapai, yaitu pada rentang 17% hingga 21%," kata Eniya dalam IndoEBTKE Conex 2026, Rabu (2/9/2026).
Dia mengungkapkan tren kapasitas terpasang EBT terus mengalami pertumbuhan bertahap setiap tahunnya, yaitu dari 12 GW pada 2021, naik ke 13 GW, 13,7 GW, 14,8 GW, hingga saat ini mencapai 16,32 GW.
Meskipun investasi menunjukkan grafik kenaikan, dia menilai pertumbuhannya masih tergolong landai.
Pertumbuhan yang landai ini menjadi perhatian penting pemerintah agar target capaian EBT sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) Dewan Energi Nasional, Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
"Target bersama kita adalah mencapai 30% bauran energi nasional untuk EBT pada 2034," jelasnya.
Dari total porsi bauran EBT sebesar 17,3% saat ini, sektor pembangkit listrik menyumbang kontribusi dari bioenergi sebesar 4,19%, PLTA 2,69%, Panas Bumi (PLTP) 1,84%, PLTS 0,51%, serta PLTB (angin) yang masih berada di angka 0,06%.
Adapun pada sektor non-listrik, FAME (biodiesel) menduduki peringkat terbanyak yaitu 5,01% dan biomassa sebesar 2,82%.
Melihat porsi PLTS yang masih sangat kecil dalam struktur bauran EBT, Eniya mengatakan Kementerian ESDM berkomitmen untuk menyederhanakan regulasi serta meluncurkan berbagai program intervensi pada tahun ini guna memfasilitasi ekosistem investasi EBT secara lebih agresif.
(azr/ros)





























