Negara konsumen terbesar di Asia ini memprioritaskan pasokan domestik di tengah gejolak berkepanjangan di pasar energi global.
Ekspor yang mencakup bensin dan solar turut terdampak, menurut pihak-pihak yang terlibat dalam pengiriman dan pembelian kargo tersebut, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak memiliki wewenang berbicara kepada publik.
Selisih harga spot dan harga kontrak bulan depan (spread) untuk bensin dan solar di Asia melebar pada Rabu malam saat para trader mengetahui kabar tersebut. Hal ini mengindikasikan kondisi pasar semakin ketat.
Pembeli tidak diberikan rincian lebih lanjut, termasuk alasan pasti di balik pembatalan tersebut, kata para sumber tersebut.
Pengiriman tersebut masih bisa dilanjutkan kembali pada akhir Oktober, setelah liburan berakhir pekan depan. Namun, setiap gangguan pada ekspor China dipantau ketat oleh pembeli dan trader di tengah krisis pasokan global akibat gangguan di Rusia dan Timur Tengah.
Perusahaan milik negara seperti Sinopec Group dan Sinochem mendominasi ekspor bahan bakar dari negara tersebut, di mana sebagian besar pasokan dikirim ke perusahaan minyak raksasa dan perusahaan perdagangan, yang kemudian menyalurkannya ke negara-negara Asia lain.
Sekadar informasi, Kementerian ESDM mengungkapkan Indonesia berencana masih impor sekitar 600.000 kl solar dengan cetane number (CN) 51 atau kualitas tinggi pada tahun ini.
Sementara itu, solar CN 48 atau kualitas rendah diklaim tak lagi diimpor Indonesia.
Pada 2026, Indonesia berencana mengimpor sekitar 1 juta kl avtur atau bahan bakar pesawat serta 3,6 juta kl produk bensin RON 92, 96, dan 97.
Sepanjang tahun ini, Kementerian ESDM memprediksi kebutuhan bensin nasional mencapai 38,1 juta kl.
Dari besaran tersebut, sekitar 23,83 juta kl didapatkan dari hasil impor dan 14,27 juta kl dari produksi domestik.
(azr/wdh)


























