Saham–saham unggulan LQ45 yang juga bergerak pada teritori negatif dan menyeret IHSG di zona merah antara lain, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) amblas 11,1%, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) jatuh 4,58%. Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) drop 4,25%, dan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turun 3,57%.
Senasib, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melemah 2,71%, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terpeleset 2,52%. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) minus 2,46%, dan saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) turun 2,33%.
Panin Sekuritas memaparkan IHSG Sesi I melemah 0,32% di posisi 5.990, seiringan dengan saat ini pasar memprediksi Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan suku bunga, dengan probabilitas 75,1%, namun ada ruang kenaikan sebesar 25bps pada pertemuan Desember 2026 dengan probabilita mencapai 61,3%.
Adapun, katalis yang membebani Indeks Komposit saat ini adalah tren kenaikan yield obligasi global, melemahnya sebagian besar komoditas, hingga masih derasnya outflow dana asing.
“Investor Asia saat ini sedang mencermati tren kenaikan yield obligasi global serta ekspektasi Bank Sentral yang lebih hawkish akibat level inflasi yang tinggi,” mengutip riset terbaru Panin, siang hari ini.
Selain itu, Mirae Asset Sekuritas menyebut, sentimen dari sisi politik-ekonomi domestic ialah reshuffle kabinet menjadi sumber uncertainty jangka pendek karena para pelaku investor masih perlu menilai kontinuitas kebijakan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli, serta koordinasi antar Kementerian dan dengan Bank Indonesia (BI).
Kemudian, rupiah juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dimana pada Kamis sebelumnya, rupiah ditutup melemah sekitar 0,4% mencapai Rp17.966 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi penguatan dolar AS, tingginya yield US Treasury, serta sentimen risk-off domestik yang muncul setelah reshuffle.
“Kondisi rupiah yang masih berada dekat Rp18.000 per dolar AS berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap saham-saham yang sensitif terhadap nilai tukar dan arus modal asing,” papar Mirae Asset, Jumat.
(fad)



























