Pasar yang semakin ketat ini memicu ancaman persaingan yang lebih sengit antara Eropa dan Asia—pasar pembeli terbesar bahan bakar super dingin ini—untuk memperebutkan pasokan alternatif dari AS dan negara lain.
Meski aliran LNG melalui Selat Hormuz dari Qatar dan Uni Emirat Arab meningkat pada September ke level tertinggi sejak perang Iran dimulai, volume transit masih 80% di bawah level Februari, menurut data Kpler.
Bulan lalu, Qatar memperpanjang status force majeure (keadaan kahar) untuk pengiriman ke pelanggan jangka panjang di Asia hingga November, dan ke Eropa hingga Desember.
Kani mengatakan bahwa tingkat penyimpanan gas yang rendah secara musiman di Eropa, ditambah dengan kebijakan Uni Eropa yang melarang impor LNG Rusia mulai Januari, "menunjukkan bahwa harga spot akan terus naik."
"Jika Eropa mengalami 'musim dingin yang ekstrem', mereka tidak punya pilihan selain membeli LNG untuk menyediakan energi pemanas bagi masyarakat," ujarnya. "Jadi, Eropa mungkin akan menghadapi situasi yang sangat sulit."
(bbn)





























