Logo Bloomberg Technoz

Setidaknya, pasar keuangan Asia mendapat sedikit ruang bernapas setelah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global. Akan tetapi, ruang itu masih sangat terbatas mengingat yield US Treasury belum benar-benar berbalik turun. Selama yield AS berada di atas 5%, daya tarik aset dolar AS masih relatif kuat dan tekanan bagi mata uang Asia belum sepenuhnya hilang. 

Dari sisi domestik, penguatan rupiah yang berbalik arah dari posisi pembukaannya pagi ini ditopang oleh langkah intervensi Bank Indonesia (BI). Bank sentral kini tidak lagi terlalu mengandalkan intervensi di pasar spot. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut posisi intervensi spot hanya sekitar 30% dari total intervensi valuta asung.

Sementara sisanya, BI menggunakan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan NDF. Strategi itu dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan cadangan devisa secara langsung. 

Di pasar NDF, rupiah terkonsolidasi ke posisi Rp17.966/US$ setelah mampu defensif dan menguat sangat terbatas 0,07% pada 09:15 WIB. 

Sementara di pasar obligasi, yield tenor pendek kembali turun dengan tenor 1 tahun terpangkas 3,1 bps ke 6,74% dan tenor 3 tahun turun tipis 0,04 bps ke 6,93%. 

Di tengah pergerakan aset-aset rupiah itu, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan ekonomi dan fiskal usai terjadinya perombakan kabinet. Kocok ulang posisi dalam pemerintahan dapat menimbulkan pertanyaan mengenai desain kelembagaan dan pembagian kewenangan, terutama jika posisi-posisi itu berkaitan langsung dengan sektor strategis dan pengelolaan sumber daya ekonomi. 

Pelaku pasar akan mencermati bagaimana perubahan kabinet itu dan menerjemahkan kondisi ini menjadi ekspektasi soal kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah ke depan. 

Di tengah kondisi dan sentimen yang ada, rupiah hari berpotensi konsolidasi di rentang Rp17.870-17.980/US$. 

(dsp/aji)

No more pages