Jejak ESG Empat Tahun, BRI Masuk Sustainability Yearbook 2026

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali mempertahankan status sebagai Sustainability Yearbook Member dalam The Sustainability Yearbook 2026 yang diterbitkan S&P Global.
Pengakuan tersebut memperpanjang konsistensi BRI selama empat tahun berturut-turut sejak 2023 hingga 2026. Capaian ini diraih ketika standar serta ekspektasi global terhadap penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) terus berkembang.
Dalam edisi 2026, BRI tercatat sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia dari sektor perbankan yang masuk dalam daftar Sustainability Yearbook Member. Pengakuan tersebut menunjukkan konsistensi perseroan dalam menjaga penerapan praktik keberlanjutan di tengah perubahan standar global.
The Sustainability Yearbook merupakan publikasi tahunan S&P Global yang memberikan pengakuan kepada perusahaan dengan kinerja keberlanjutan yang dinilai unggul dibandingkan perusahaan lain dalam industri yang sama.
Pada edisi 2026, lebih dari 9.200 perusahaan di dunia dipertimbangkan untuk masuk dalam The Sustainability Yearbook setelah menjalani penilaian melalui Corporate Sustainability Assessment (CSA) 2025.
Dari ribuan perusahaan tersebut, hanya 848 perusahaan yang berhasil terpilih untuk masuk dalam daftar Sustainability Yearbook 2026. Proses tersebut menunjukkan ketatnya seleksi yang dilakukan S&P Global dalam menilai kinerja keberlanjutan perusahaan.
Penilaian CSA sendiri menggunakan indikator yang disesuaikan dengan karakteristik dan materialitas isu keberlanjutan pada masing-masing industri. Seleksi juga mempertimbangkan skor CSA serta exclusion screening melalui Media & Stakeholder Analysis (MSA).
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, keberhasilan mempertahankan pengakuan selama empat tahun berturut-turut mencerminkan upaya perseroan dalam mengikuti perkembangan standar keberlanjutan global.
“Standar dan ekspektasi global terhadap penerapan ESG terus berkembang. BRI merespons perkembangan tersebut dengan memperkuat praktik keberlanjutan dan menggunakan pedoman yang diakui secara global sebagai rujukan. Pendekatan ini membantu kami menjaga kualitas penerapan ESG agar konsisten, terukur, dan relevan dengan kebutuhan bisnis serta pemangku kepentingan,” ujar Hery.
BRI Perkuat Pengungkapan dan Pembiayaan Berkelanjutan
Di luar penilaian S&P Global, BRI juga menggunakan sejumlah standar dan pedoman global sebagai referensi dalam mengembangkan praktik keberlanjutan. Rujukan tersebut disesuaikan dengan karakteristik bisnis dan kebutuhan perusahaan.
Salah satu area yang diperkuat adalah kualitas pengungkapan informasi keberlanjutan. Pada aspek lingkungan dan tata kelola, BRI mengacu pada IFRS S1 General Requirements for Disclosure of Sustainability-related Financial Information dan IFRS S2 Climate-related Disclosures.
IFRS S1 memberikan kerangka mengenai pengungkapan informasi terkait risiko dan peluang keberlanjutan yang berpotensi memengaruhi prospek perusahaan. Sementara itu, IFRS S2 secara khusus mengatur pengungkapan mengenai risiko dan peluang yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Penggunaan standar tersebut menjadi bagian dari langkah BRI untuk meningkatkan kualitas informasi keberlanjutan yang disampaikan kepada para pemangku kepentingan. Pendekatan ini sekaligus memperkuat hubungan antara aspek keberlanjutan dengan strategi, tata kelola, serta manajemen risiko perusahaan.
Dengan penguatan tersebut, isu ESG tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari pelaporan keberlanjutan. Aspek tersebut juga semakin terintegrasi dalam pengelolaan perusahaan dan menjadi salah satu pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
Penerapan prinsip keberlanjutan BRI juga terlihat dalam aktivitas pembiayaan. Dalam penerbitan Social Bond, perseroan mengacu pada Social Bond Principles yang diterbitkan International Capital Market Association atau ICMA.
Sementara itu, pengukuran dan pelaporan dampak sosial dari penerbitan tersebut mengacu pada Harmonised Framework for Impact Reporting for Social Bonds yang juga diterbitkan ICMA.
Penerapan pedoman tersebut tercermin dalam penerbitan Social Bond BRI Tahap I pada 2025 dan Tahap II pada 2026. Masing-masing penerbitan memiliki nilai Rp5 triliun.
Berdasarkan Impact Report Social Bond BRI 2025, dana dari penerbitan tahap pertama dimanfaatkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat atau KUR dan Kupedes.
Pemanfaatan dana tersebut tercatat berkontribusi terhadap penciptaan sekitar 59.000 lapangan kerja UMKM. Selain itu, pembiayaan tersebut turut mendukung peningkatan aset usaha pada sekitar 23.000 nasabah.
Capaian tersebut menggambarkan bagaimana kerangka keberlanjutan yang digunakan BRI diterjemahkan ke dalam aktivitas bisnis. Pembiayaan tidak hanya diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi, tetapi juga dikaitkan dengan dampak sosial yang dapat diukur.
Hery mengatakan BRI akan melanjutkan penguatan praktik ESG dengan memperhatikan dinamika standar global. Pada saat yang sama, perseroan tetap menempatkan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik sebagai bagian penting dalam menjalankan bisnis.
“Ke depan, BRI akan terus meningkatkan kualitas penerapan ESG dengan memperhatikan perkembangan standar global serta tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik. Kami ingin memastikan setiap pertumbuhan yang diciptakan BRI memiliki fondasi yang kuat, memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat, serta berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Hery.
Keberlanjutan pengakuan dari S&P Global selama empat tahun menempatkan praktik ESG sebagai bagian yang terus dikembangkan BRI. Konsistensi tersebut berlangsung seiring meningkatnya tuntutan terhadap kualitas transparansi, tata kelola, pembiayaan berkelanjutan, serta pengelolaan risiko lingkungan dan sosial.
Bagi sektor perbankan, penerapan ESG juga berkaitan dengan bagaimana pembiayaan diarahkan dan bagaimana risiko keberlanjutan dipertimbangkan dalam aktivitas bisnis. Karena itu, penggunaan standar global dan pengukuran dampak menjadi bagian dari upaya memperkuat praktik keberlanjutan dalam jangka panjang.
Melalui pendekatan tersebut, BRI berupaya menjaga agar agenda keberlanjutan berjalan beriringan dengan strategi bisnis. Penguatan pengungkapan, penerbitan Social Bond, serta penyaluran pembiayaan yang memberikan dampak sosial menjadi sejumlah instrumen yang digunakan perseroan dalam menerjemahkan komitmen ESG ke dalam aktivitas perusahaan.































