Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo mengatakan, “Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya,” katanya dalam siaran pers laporan keuangan 29 Juli lalu. 

Ia juga menyampaikan bahwa bisnis Fintech GoTo juga terus menunjukkan kinerja yang unggul.  Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. 

Selain mencatat perbaikan kinerja, GoTo memiliki dua aksi korporasi strategis yang berkaitan dengan sahamnya yaitu program pembelian kembali saham atau buyback dan rencana pembatalan saham tresuri.

GoTo telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun. Program tersebut memberi perseroan ruang untuk membeli sahamnya sesuai pertimbangan manajemen dan kondisi pasar selama periode pelaksanaannya.

Sementara itu, GoTo berencana membatalkan sekitar 32 miliar saham tresuri, atau setara sekitar 2,7% dari jumlah saham yang diterbitkan. Rencana ini masih memerlukan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 14 Oktober 2026. 

Jika disetujui dan dilaksanakan, pembatalan tersebut akan menghapus saham tresuri secara permanen. Saham yang dibatalkan tidak dapat kembali dilepas ke pasar pada kemudian hari.

“Pembatalan saham tresuri secara permanen akan mengurangi jumlah saham beredar sekaligus meningkatkan persentase kepemilikan setiap pemegang saham yang ada secara proporsional. Langkah ini memberikan manfaat langsung bagi seluruh pemegang saham GoTo saat ini.” ungkap Hans, dalam keterangan resmi 22 September. 

Ia juga menegaskan komitmen GoTo untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham GoTo serta senantiasa menerapkan standar tertinggi tata kelola perusahaan dengan tetap mengedepankan seluruh pemangku kepentingan.

Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny, sempet menegaskan harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat.

Menurut dia, penurunan harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp50.

Audrey menegaskan, kinerja bisnis perusahaan terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II/2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar, mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut. Pendapatan bersih tercatat sebesar Rp5,7 triliun, sementara adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp1 triliun. 

“Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun. Kami tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang kami yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham,” katanya.

(tim)

No more pages