Menurutnya, fluktuasi harga material dan kenaikan inflasi telah menjadi bagian dari struktur biaya yang diperhitungkan dalam penyusunan HPP proyek.
"Target Rp1,25 triliun ini dengan target omset kontrak yang kita hadapi Rp40,25 triliun ini sudah kami lakukan perhitungan secara menyeluruh, komprehensif," ujarnya.
Di sisi lain, WIKA tengah menjalankan sejumlah program untuk memperbaiki kinerja operasional dan keuangan perseroan. Program tersebut terbagi dalam dua klaster, yakni business as usual dengan kembali ke core business serta klaster financial recovery dan penyelesaian isu kritis.
Pada klaster pertama, WIKA fokus pada jasa konstruksi dan peningkatan operational excellence.
Sementara itu, klaster kedua mencakup program divestasi atau asset monetization, percepatan cash collection dan piutang, serta debt restructuring.
Manajemen menyebut laba kotor sebesar Rp1,25 triliun belum sepenuhnya dapat menutup beban perseroan, termasuk beban bunga, beban lain-lain, dan impairment.
Karena itu, program pemulihan keuangan menjadi bagian penting dalam strategi WIKA.
Selain itu, WIKA menerapkan Lean Construction, Building Information Modeling (BIM), dan sistem ERP yang terintegrasi untuk mengendalikan biaya proyek sejak tahap tender hingga pelaksanaan.
Adopsi sistem tersebut digunakan untuk mengidentifikasi potensi pemborosan biaya, termasuk waktu tunggu, defect, dan persediaan, sekaligus memberikan early warning terhadap perubahan harga.
WIKA juga mengarahkan proyek-proyek yang diperoleh untuk menggunakan skema pembayaran berdasarkan progress atau money certificate, sehingga arus kas dapat lebih terjaga seiring dengan perkembangan pekerjaan konstruksi.
(fik/naw)




























