"Mereka berpendapat hal itu akan membantu kondisi solar, tetapi bisa saja menaikkan harga komoditas lain. Saya rasa posisi kita saat ini cukup baik karena harga minyak akan mulai turun," ujar Trump.
"Tampaknya langkah itu akan berdampak negatif pada harga bensin—harga bensin mungkin akan sedikit naik sementara harga solar sedikit turun—dan menurut kami, posisi kita saat ini sangat baik."
Harga solar telah melonjak hingga mencapai rekor tertinggi, sehingga meningkatkan tekanan terhadap Gedung Putih beberapa pekan menjelang pemilihan umum paruh waktu, di mana Partai Republik yang dipimpin Trump berisiko kehilangan kendali atas Kongres.
Para pemilih memberikan penilaian buruk terhadap Trump, terutama terkait tingginya biaya hidup.
Pada Rabu, Wright menyoroti satu potensi solusi untuk mengatasi tingginya harga, dengan mengatakan akan ada "pengumuman dari rekan-rekan kita di Eropa mengenai pasokan solar baru yang akan masuk ke pasar."
Para pejabat Gedung Putih telah mempertimbangkan berbagai langkah spesifik lainnya untuk menekan biaya tanpa harus menempuh kebijakan larangan ekspor.
Opsi-opsi tersebut mencakup upaya mendorong para pemimpin negara Eropa yang sangat bergantung pada solar AS untuk melepas sebagian cadangan mereka, menurut sumber yang mengetahui masalah ini dan berbicara secara anonim mengenai pembahasan internal tersebut.
Pejabat AS telah mengeluhkan bahwa negara-negara Eropa tertinggal dibandingkan AS dan Jepang dalam hal pelepasan cadangan minyak global secara terkoordinasi di tengah situasi konflik Iran.
Wright menyatakan bahwa beberapa negara Eropa "hanya melepas sebagian kecil dari cadangan minyak mentah dan produk minyak bumi yang telah mereka janjikan."
Eropa masih memiliki cadangan minyak darurat dalam jumlah yang signifikan, demikian disampaikan oleh kepala divisi pasar minyak Badan Energi Internasional (IEA) awal bulan ini.
Saat ditanya apakah Eropa telah setuju untuk melepas cadangan solar, Burgum mengatakan kepada Bloomberg pada Rabu bahwa ia tidak ingin "mendahului pengumuman apa pun yang ingin disampaikan pihak Eropa."
"Satu hal yang jelas adalah, sementara Amerika Serikat selalu piawai dalam mengelola cadangan minyak bumi strategis untuk minyak mentah, Eropa telah melakukan pekerjaan yang baik dalam memelihara cadangan strategis untuk produk olahan," tambahnya.
"Mereka tentu memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan membantu menurunkan harga jika mereka secara sukarela melepas cadangan dalam jumlah signifikan sebagai bagian dari upaya tersebut."
Para eksekutif perusahaan minyak dan analis energi telah memperingatkan pemerintahan Trump bahwa langkah apa pun untuk membatasi ekspor solar dapat memicu kenaikan harga bensin, mengingat kilang memproduksi kedua jenis bahan bakar tersebut secara bersamaan.
Mereka menyatakan bahwa jika kilang terpaksa mengurangi produksi solar, produksi bensin juga akan ikut turun, sehingga mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
"Presiden Trump sedang mempertimbangkan setiap gagasan yang berpotensi menurunkan harga, jadi ada banyak gagasan yang sedang dibahas," ujar Burgum secara terpisah kepada Fox Business.
"Namun, seperti yang telah beliau akui, ketika Anda memproduksi solar melalui proses penyulingan yang juga menghasilkan bahan bakar jet dan bensin, membatasi pasokan justru bisa berujung pada kenaikan harga produk-produk lainnya."
Pasar berjangka solar di Eropa dan AS mengalami fluktuasi tajam sejak Trump mengakui bahwa ia sedang mempertimbangkan larangan ekspor pada awal September.
Selisih harga (premium) untuk bahan bakar buatan AS sempat anjlok—yang mengindikasikan ekspektasi harga solar yang lebih mahal di pasar luar negeri—sebelum akhirnya pulih kembali seiring meredanya kekhawatiran para pedagang akan adanya larangan tersebut.
Menurut data terbaru dari klub otomotif AAA, harga eceran solar berada di angka US$6,41 per galon, sedikit di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat pekan lalu.
Selama berbulan-bulan, para pejabat tinggi pemerintahan Trump, termasuk Burgum dan Wright, telah menyoroti potensi dampak negatif dari pembatasan ekspor minyak mentah dan produk minyak bumi.
Menurut pihak-pihak yang mengetahui masalah ini, jaminan dari Gedung Putih bahwa larangan tidak akan diberlakukan telah menciptakan suasana yang relatif lebih tenang terkait ancaman tersebut.
Hal itu tidak lagi dianggap sebagai opsi yang sedang dipertimbangkan—demikian ungkap sejumlah pihak—terutama karena para pejabat tengah menimbang berbagai langkah terpisah lainnya untuk menekan biaya, termasuk memangkas pajak cukai bahan bakar diesel.
Rapidan Energy Group, sebuah perusahaan konsultan energi, sebelumnya telah menurunkan estimasi kemungkinan diberlakukannya pembatasan ekspor yang "ketat" dari 75% menjadi 40%, dengan merujuk pada pernyataan Trump akhir pekan lalu yang menyebutkan bahwa larangan semacam itu dapat memicu kenaikan harga bahan bakar.
(bbn)





























