Logo Bloomberg Technoz

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

“Kenaikan yield obligasi dan risiko pengetatan kebijakan moneter membuat emas rentan terhadap aksi jual,” tegas Ewa Manthey, Commodity Strategist di ING Bank, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Karyawan menata emas perhiasan di Toko Mas Bintang Timur, Jakarta, Rabu (7/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Analisis Teknikal

Jadi bagaimana prediksi gerak harga emas untuk Oktober? Apakah bisa bangkit atau malah makin terjepit?

Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame), emas berada di zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 58. RSI di atas 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bullish.

Sementara indikator Stochastic RSI ada di nol. Paling kecil, sudah sangat jenuh jual (oversold).

Untuk perdagangan bulan ini, harga emas berpeluang naik. Target resisten terdekat adalah Moving Average (MA) 5 di US$ 4.239/troy ons.

Cermati pivot point di US$ 4.389/troy ons. Jika tertembus, maka ada harapan harga emas akan mengetes rentang US% 4.511-5.067/troy ons.

Target paling optimistis adalah US$ 5.467/troy ons.

Namun andai harga emas malah turun, maka US$ 4.080/troy ons bisa menjadi target support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko menjatuhkan harga emas ke level US$ 3.969-3.710/troy ons.

Target paling pesimistis ada di US$ 3.401/troy ons.

(aji)

No more pages