Logo Bloomberg Technoz

Hal tersebut menyebabkan kondisi fiskal AS akan memburuk sehingga negara adi daya tersebut harus menerbitkan surat utang yang lebih banyak dengan suku bunga yang lebih tinggi untuk menarik investor.

“Dengan suku bunga lebih tinggi investor global repositioning, Amerika lebih menarik akan terjadi outflow permintaan terhadap US dolar meningkat,” kata Erwin.

Hal ini menyebabkan indeks dolar menjadi menguat sehingga di pasar Non Deliverable Forward (NDF), rupiah akan menunjukan pelemahan. Hal ini menjadi sentimen tersendiri di mata investor.

“Ada yang mungkin keluar sekarang [karena] melihat yield sekarang nggak menarik [di] Indonesia. Udah lah balik kampung ke Amerika. Ini bahasa mudahnya dia jual sebut saja SBN, SRBI dia jual, yield akan naik dia jual dapat rupiah, beli valas,” kata Erwin. 

“Ini sudah terealisir menjadi faktor pasar, ini masih sentimen sebenernya. Nilai tukar melemah pasti orang permintaan lebih gede daripada supply yang ada kalau outflownya banyak.”

Sehingga, Erwin mengatakan bahwa jalur pelemahan rupiah tak hanya dari supply dan demand saja, namun juga jalur persepsi.

Sehingga, untuk mendorong dana asing masuk, kebijakan insentif dipersiapkan. Selain itu BI juga berkoordinyasi dengan pemerintah untuk menjaga perekonomian domestik menjadi lebih kondusif agar sentimen negatif dapat berkurang.

“Kita tetap komit menjaga stabilitas dengan bauran intervensi kita baik itu di spot, DNDF maupun NDF dengan dinamika pasar yang ada,” kata Erwin. 

Sementara dari sisi kebijakan Bank Indonesia terus mendorong agar pasar valas agar tetap terpenuhi lewat instrumen lindung nilai dan diversifikasi mata uang.

(ell)

No more pages