Pembatasan ekspor tersebut, yang awalnya direncanakan hanya berlangsung beberapa minggu, kemudian diperpanjang hingga Agustus dan selanjutnya hingga akhir September, seiring berlanjutnya serangan-serangan tersebut.
Sebelum ada pembatasan ini, Rusia menyumbang sekitar 10% dari pasokan diesel global yang dikirim melalui jalur laut.
Penarikan volume tersebut dari pasar memperparah dampak gangguan pada aliran pasokan dari Timur Tengah, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar tersebut.
Awal bulan ini, Presiden AS Donald Trump menyalahkan konflik Rusia-Ukraina—bukan pada perang Iran yang ia mulai—atas kenaikan harga tersebut.
Dia juga mengklaim Moskwa dan Kyiv telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap aset energi satu sama lain. Tak satu pun pihak mengonfirmasi gencatan senjata tersebut, dan serangan terhadap infrastruktur energi terus berlanjut.
Pada Minggu, Trump mengatakan ia sedang mempertimbangkan "dengan sangat serius" penerapan larangan ekspor diesel di AS, di tengah tekanan yang semakin besar untuk mengendalikan harga bahan bakar di dalam negeri.
(bbn)






























