Pembukaan pangkalan tersebut menambah jaringan fasilitas militer luar negeri PLA yang masih terbatas, tetapi terus berkembang, seiring meningkatnya kemampuan China untuk memproyeksikan kekuatan militernya ke luar wilayah perbatasan.
“Selain memperkuat statusnya sebagai kekuatan dominan di kawasan, pangkalan ini juga membantu Beijing meningkatkan citranya sebagai penyedia keamanan regional,” kata James Char, asisten profesor di Nanyang Technological University.
Ia mencatat bahwa PLA biasanya menyatakan fasilitas militernya di luar negeri hanya ditujukan untuk operasi penjaga perdamaian, pemberantasan terorisme, dan penanggulangan bencana. Namun, keberadaan “pangkalan China di jantung daratan Asia Tenggara tetap dapat dipandang dengan kekhawatiran.”
China membuka pangkalan militer resmi pertamanya di luar negeri di Djibouti pada 2017. Selanjutnya, China membuka Pusat Dukungan dan Pelatihan Gabungan China-Kamboja di Pelabuhan Ream, Kamboja, pada 2025. Kedua fasilitas tersebut memicu kekhawatiran di Washington dan sejumlah ibu kota negara Barat mengenai meluasnya kehadiran militer Beijing di dunia. Kamboja menegaskan bahwa PLA tidak memiliki akses eksklusif ke pangkalan Ream. Kapal-kapal angkatan laut asing, termasuk dari AS dan Jepang, juga pernah mengunjungi pelabuhan tersebut.
Jika dua fasilitas sebelumnya berfokus pada angkatan laut, pangkalan di Laos menandai fasilitas luar negeri pertama bagi Angkatan Udara PLA. Lokasi landasan pacu yang berdekatan dengan Thailand secara teoretis memungkinkan fasilitas tersebut mendukung latihan militer PLA di negara itu, termasuk latihan udara tahunan Falcon Strike. Pangkalan tersebut juga mempermudah akses jet tempur PLA ke Kamboja, Vietnam, dan Myanmar.
Vietnam, khususnya, memiliki “alasan serius untuk khawatir” jika pangkalan tersebut menjadi pijakan bagi kehadiran PLA yang lebih permanen di Laos. Kekhawatiran itu semakin besar jika kehadiran tersebut berkembang dari aktivitas China di Pelabuhan Ream, Kamboja, dan wilayah sengketa di Laut China Selatan, kata Nguyen Khac Giang, peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute.
“Perkembangan ini dapat memberi Beijing pengaruh yang lebih besar atas jalur akses strategis di sekitar Vietnam. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan China untuk memantau dan berpotensi membatasi ruang gerak Vietnam saat menghadapi krisis,” kata Giang. “Banyak hal bergantung pada bagaimana fasilitas tersebut digunakan.”
Kedutaan Besar Laos di Singapura dan Kementerian Luar Negeri Vietnam belum segera menanggapi permintaan komentar. Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa meskipun pembangunan pangkalan tersebut merupakan keputusan berdaulat Laos, “Thailand perlu terus memantau situasi dan perkembangannya, terutama dengan berfokus pada upaya membangun rasa saling percaya.”
Fasilitas angkatan udara tersebut berada di Ban Keun, sekitar 64 kilometer di sebelah utara ibu kota Vientiane. Wilayah itu juga menjadi lokasi lapangan terbang peninggalan era Perang Dingin yang dikenal sebagai Lima Site-44. Lapangan terbang tersebut pernah digunakan AS untuk kegiatan penerbangan dan operasi logistik.
Citra satelit menunjukkan bahwa pusat pelatihan baru itu berada di dekat bekas lapangan terbang tersebut. Berdasarkan citra satelit dari program Copernicus milik Uni Eropa, pembukaan lahan pertanian di kawasan itu tampaknya telah dimulai sekitar November tahun lalu.
Laos, negara komunis, telah menjalin hubungan erat dengan China sejak 1990-an berkat kesamaan ideologi. China meresmikan jalur kereta api yang menghubungkan kedua negara pada 2021. Jalur tersebut membantu mendorong perekonomian lokal dan mempererat hubungan kedua negara.
Kedua negara membentuk dialog tingkat menteri 3+3 pada Juni yang melibatkan kementerian luar negeri, pertahanan, dan keamanan publik. Saat Menteri Pertahanan Laos Khamlieng Outhakaysone berkunjung ke Beijing pada pertengahan September, Menteri Pertahanan China Dong Jun berjanji memperdalam koordinasi dan kerja sama dengan Laos guna membangun hubungan militer yang “lebih erat dan lebih substantif”.
(bbn)
































