Setali tiga uang, permintaan investor pada tenor acuan 10 tahun ikut turun. Penawaran masuk terpangkas 42,17% dari Rp9,38 triliun jadi Rp5,42 triliun. Namun, nilai yang dimenangkan hanya berkurang 7,07% dari Rp4,95 triliun menjadi Rp4,6 triliun. Padahal, yield justru naik menjadi 7,24% dari 7,2%.
Tak berhenti di sana, investor juga kian selektif pada tenor yang lebih panjang. Pada seri FR0107 (tenor 19 tahun), penurunan permintaan terjadi cukup dalam 55,48% dari Rp5,41 triliun jadi Rp2,41 triliun.
Pemerintah pun bahkan harus memangkas nominal yang dimenangkan sebesar 75%, jadi Rp950 miliar saja, dari sebelumnya Rp3,8 triliun. Meski begitu, sayangnya yield tetap terkerek naik jadi 7,28% dari 7,24%.
Berikut hasil lelang surat utang:
Lelang surat utang kali ini menunjukkan pasar yang lebih defensif dibandingkan dua pekan sebelumnya dengan turunnya permintaan hampir 30%. Tak heran, sebab lelang surat utang berlangsung kala pasar sedang melakukan aksi jual (sell-off) karena kenaikan yield surat utang Amerika Serikat (AS), US Treasury, tertinggi sejak 2007.
Kemarin, yield surat utang tenor acuan global juga turut menanjak dan mengerek yield surat utang pemerintah RI tenor 10 tahun sebesar 8,1 bps ke 7,22%, tertinggi dalam enam pekan terakhir.
Begitu juga dengan yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) alias INDON, ikut melonjak 6,7 bps ke 6,2% (tenor 10 tahun), dan 2,7 bps ke 5,65% (tenor 5 tahun).
Kenaikan ini lantas mengerek Credit Default Swap (CDS) INDON 5 tahun kian tinggi menjadi 92 pada Selasa (29/9/2026), dari posisi dua pekan lalu yang masih berada di kisaran 82.
Kenaikan CDS sebesar 10 bps dalam waktu relatif singkat itu menunjukkan bahwa biaya proteksi terhadap risiko gagal bayar utang Indonesia di mata pasar ikut meningkat.
(dsp/aji)




























