"Konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap prospek inflasi tetap menjadi narasi makro utama dan kemungkinan besar akan menentukan pergerakan suku bunga AS di masa mendatang," ujar Ian Lyngen dari BMO Capital Markets.
Para investor menuntut imbal hasil obligasi yang lebih tinggi seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai inflasi yang persisten, belanja pemerintah, dan lonjakan utang korporasi untuk mendanai pengembangan kecerdasan buatan (AI). Di tengah situasi ini, pasar uang memperhitungkan adanya serangkaian kenaikan suku bunga dalam satu tahun ke depan.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan bahwa satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini mungkin tepat untuk membantu meredam inflasi, namun ia menambahkan bahwa tidak ada urgensi untuk segera bertindak setelah keputusan bank sentral menaikkan suku bunga bulan ini.
Menyusul pernyataannya tersebut, para pelaku pasar mengurangi ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga pada bulan Oktober.
"Kami menilai hal ini sejalan dengan skenario untuk menunda kenaikan suku bunga pada bulan Oktober dan melaksanakannya pada bulan Desember," ujar Krishna Guha dari Evercore.
Sementara itu, Gubernur The Fed Michael Barr pada hari Selasa kembali menegaskan peringatan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan besar diperlukan untuk meredam inflasi.
Jumlah lowongan kerja di AS turun ke level terendah dalam lima bulan, yang mengindikasikan bahwa pemberi kerja menjadi lebih berhati-hati dalam menambah jumlah karyawan menjelang akhir musim panas, sementara tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) tetap rendah. Indeks kepercayaan konsumen juga merosot ke tingkat terendah sejak tahun 2014.
Menurut Bret Kenwell dari eToro, data pasar tenaga kerja terbaru memperkuat tren "minim perekrutan dan minim PHK" yang sedang berlangsung saat ini. Terkait kepercayaan konsumen, ia berpendapat bahwa angka utama yang mengecewakan tersebut tidaklah mengherankan.
"Sentimen saat ini berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir akibat inflasi yang terus berlanjut dan kenaikan biaya hidup yang membebani rumah tangga," catat Kenwell.
"Pertanyaannya kini adalah apakah hal tersebut akan berdampak pada melemahnya belanja konsumen—sebuah pertanyaan yang jawabannya akan terlihat selama musim laporan keuangan perusahaan."
(bbn)





























