Sejumlah saham melemah tajam dan menjadi top losers antara lain saham PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI) yang jatuh 15%, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) melemah 14,79%, dan PT Martina Berto Tbk (MBTO) turun 14,77%.
Bursa Asia kompak menjajaki jalur merah. Pada penutupan perdagangan hari ini, TOPIX (Jepang), KLCI (Malaysia), PSEi (Filipina), Weighted Index (Taiwan), NIKKEI 225 (Jepang), SETI (Thailand), Hang Seng (Hong Kong), SENSEX (India), KOSPI (Korea), Straits Times (Singapura), dan Ho Chi Minh Stock (Vietnam) melemah masing–masing 1,72%, 1,56%, 0,87%, 0,82%, 0,61%, 0,51%, 0,48%, 0,33%, 0,27%, 0,25%, dan 0,17%.
Terbenamnya IHSG dan Bursa Saham Asia tersulut lonjakan harga minyak setelah penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, kembali memicu kekhawatiran geopolitik.
Pertentangan Trump tersebut mendorong respons pejabat Iran yang secara pribadi menyatakan pesimistis mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk menyudahi permusuhan dengan Washington dan membuka kembali jalur perairan penting tersebut sebelum pemilihan umum sela AS pada November, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
“Prediksi kami tetap bahwa konflik ini akan terus membayangi pasar, sementara perekonomian global akan terus menyesuaikan diri dengan kenyataan akibat gangguan pasokan,” mengutip penuturan Ian Lyngen dari BMO Capital Markets.
Terlebih lagi, kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga, juga terus meningkat.
Harga minyak mentah brent sebagai patokan global melejit 5% point-to-point mencapai US$107,8 per barel merespons pernyataan terbaru Trump. Sementara itu, dolar AS—yang menjadi aset safe haven pilihan selama konflik Timur Tengah— juga menanjak mencapai 101,414, berdasarkan data Bloomberg per 17:40 WIB.
Dari lonjakan tersebut, depresiasi rupiah tidak dapat dihindarkan hingga menjadi sentimen negatif yang berat bagi IHSG. Selasa tutup dagang hari ini, rupiah amat lesu di hadapan dolar Amerika Serikat. US$1 setara dengan Rp17.975.
Sejak pagi tadi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi amat dalam pada Selasa (29/9/2026) yang sempat menembus level genting Rp18.000/US$.
Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp18.006/US$ yang menjadi titik terlemahnya intraday. Rupiah melemah amat dalam di tengah tekanan sentimen pasar global yang semakin mengangkat pamor dolar AS.
Efeknya, saat rupiah melemah, beban utang luar negeri masing–masing emiten perusahaan bakal meningkat. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah, akan mengalami currency missmatch.
Pada nantinya, currency missmatch itu akan menggerus laba. Ketika laba emiten jatuh, apalagi sampai merugi, investor sulit berharap akan datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
(fad)





























