Perusahaan lainnya juga mulai beralih ke energi surya secara bertahap. PT Dexin Steel Indonesia (DSI) mengembangkan PLTS atap 66 MWp dengan sekitar 119.800 panel surya yang terpasang di lahan seluas 396.700 meter persegi.
PT PMMI segera menyelesaikan instalasi PLTS 0,57 MWp, sementara PT QMB tengah memetakan pemanfaatan energi surya untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan menekan jejak emisi karbon.
Yulius menjelaskan pengembangan PLTS di IMIP tidak menggunakan satu model seragam. Teknologi disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing fasilitas.
PT GCNS dan ITSS memanfaatkan area atas kanal melalui konsep Canal Top Solar PV, sedangkan OSMI, BTR, PMMI, QMB, dan DSI memasang PLTS atap pada bangunan industri.
“Memang tidak mudah karena penerapan energi listrik berbasis tenaga surya ini memiliki kebutuhan dan cost besar. Seperti tenant kita PT Sesmp yang sedang mengembangkan PLTS 200 MWp itu memerlukan lahan sekitar 200 hektare. Tapi kami terus mendorong tenant-tenant menggunakan energi listrik tenaga surya ini,” tegasnya.
Ia mengakui PLTS belum serta-merta menggantikan seluruh kebutuhan energi fosil. Namun, langkah ini menjadi bagian dari proses menuju sistem energi yang lebih beragam dan efisien.
Sebagai kawasan industri terintegrasi, IMIP menegaskan diri sebagai mitra strategi dalam mendukung transisi energi global menuju masa depan yang lebih bersih.
“Harapan kami dengan adanya PLTS ini, bisa menyatakan kepada dunia bahwa kita merupakan kawasan industri yang benar-benar serius dan berkomitmen tinggi menuju green industry dan bersinergi dengan pemerintah untuk emisi yang lebih baik,” tandas Yulius.
Sebelumnya, Ember menemukan bahwa industri pengolahan nikel tercatat menjadi pengguna listrik captive terbesar di Indonesia pada 2025 dengan konsumsi lebih dari 81 terawatt hour (TWh), di mana lebih dari 94% pasokannya berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara.
Lembaga riset energi yang berbasis di Inggris tersebut memaparkan penggunaan listrik dari PLTU captive di industri pengolahan nikel Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan sektor pulp dan kertas yang mencapai 22 TWh, serta kawasan industri multisektor sebesar 14 TWh.
"Analisis Ember menemukan pengolahan nikel menyerap lebih dari 81 TWh listrik captive pada 2025, dengan lebih dari 94% di antaranya berasal dari batu bara. Industri aluminium juga tampak makin banyak menggunakan batu bara untuk memenuhi kebutuhan listriknya," tulis Ember dalam riset berjudul Indonesia’s Captive Coal Giant: Better Data to Shape Industrial Competitiveness, dipublikasikan Kamis (24/9/2026).
Adapun, PLTU captive merupakan pembangkit listrik yang dibangun perusahaan untuk memasok fasilitasnya sendiri, tak disalurkan ke jaringan listrik PT PLN (Persero).
Ember mencatat produksi listrik dari PLTU captive pada 2026 mencapai 134 TWh atau setara 58% produksi listrik PLTU batu bara yang terhubung ke sistem PLN sebesar 233 TWh.
"Pembangkit ini sebagian besar berada di luar komitmen transisi energi Indonesia, setara dengan sekitar 135 Mt emisi CO₂, serta tambahan 30 TWh pembangkitan dari pembangkit batu bara captive dibandingkan dengan data Buku Panduan Statistik Energi dan Ekonomi ESDM," tulis Ember.
Lembaga tersebut memprediksi PLTU batu bara captive menyetor emisi sekitar 135 juta metrik ton karbon dioksida atau CO₂ pada 2025, naik dari 120 juta ton pada 2024 atau setara dengan 48% emisi dari pembangkit listrik yang terhubung ke jaringan di Indonesia.
(ros)






























