Logo Bloomberg Technoz

Dalam melaksanakannya, Yuliot mengatakan Indonesia akan turut menjalin kerja sama teknologi dengan mitra luar negeri.

Melalui pemanfaatan batu bara kalori rendah menjadi metanol, pemerintah berharap dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tambang sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui penyediaan bahan bakar ramah lingkungan.

"Jadi metanol itu kan bisa digunakan untuk sebagai pencampuran bahan bakar minyak,” katanya.

Sebelumnya, Yuliot telah meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Proyek yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC) tersebut ditargetkan menghasilkan 2 juta ton metanol per tahun.

Yuliot menegaskan bahwa pembangunan industri metanol berbasis batu bara kalori rendah menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam domestik.

“Groundbreaking ini menandai dimulainya langkah nyata pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batu bara. Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (1/9/2026).

Yuliot berharap hilirisasi BEC dapat menjadi model bagi perusahaan batu bara lainnya, mengingat besarnya potensi batubara berkalori rendah di Kalimantan dan Sumatra.

Proyek tersebut akan mengolah sekitar 7,70—7,78 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg per tahun menjadi metanol berstandar internasional, yaitu International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.

Produksi ditargetkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, mengingat pada 2025, Indonesia masih mengimpor sebesar 1,3 juta ton metanol atau senilai Rp7,1 triliun.

“Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplier effect yang nyata bagi seluruh stakeholder baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi,” jelas Yuliot.

Di sisi lain, PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan antara PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), menargetkan produksi metanol dari proyek gasifikasi batu bara (coal-to-methanol) untuk menyuplai pasar domestik sekaligus menjadi substitusi produk impor.

Presiden Direktur BEC Rio Supin menyatakan bahwa prioritas utama perusahaan adalah memenuhi kebutuhan industri dalam negeri yang selama ini bergantung pada impor metanol.

"Target utama kami sejak awal adalah melakukan substitusi impor. Seluruh konsumen metanol di dalam negeri pasti membutuhkan pasokan ini, sehingga fokus utama kami memang pasar domestik," ujar Rio Supin usai acara penandatanganan Kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Terkait dengan potensi penyerapan metanol untuk mendukung program mandatori biodiesel, Rio mengungkapkan bahwa BEC telah menandatangani sejumlah letter of agreement (LoA) atau surat kesepakatan awal pembelian.

"Saat ini, pengguna metanol terbesar berada di sektor industri biodiesel. Untuk itu, produsen minyak kelapa sawit yang menghasilkan fatty acid methyl ester [FAME] menjadi sasaran utama kami. Kami telah menandatangani beberapa LoA untuk kerja sama tersebut," tuturnya.

Sebagai informasi, metanol sangat dibutuhkan dalam program biodiesel B50 karena merupakan bahan baku utama untuk memproses minyak sawit menjadi FAME yang dicampurkan ke dalam solar.

(smr/wdh)

No more pages