Logo Bloomberg Technoz

Secara umum, SMM mencatat ekspansi kapasitas aluminium primer global masih terus berlangsung di berbagai negara.

Proyek Baru

Sejak awal Juli, terdapat enam proyek baru yang menambah usulan kapasitas sebesar 2,66 juta ton, sehingga total kapasitas proyek yang diusulkan mencapai 23,5 juta ton.

Kendati begitu, SMM mencermati bahwa sebagian besar proyek baru tersebut masih berada pada tahap awal sehingga prospek realisasinya masih perlu diperhatikan.

Di sisi lain, sejumlah proyek yang sebelumnya dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026—2027 menghadapi penundaan akibat pembangunan yang lebih lambat dari perkiraan dan berbagai faktor lainnya.

SMM mengemukakan kondisi tersebut membuat proyeksi tambahan kapasitas produksi smelter aluminium yang akan mulai beroperasi pada 2026 direvisi turun dari 2,4 juta mt menjadi sekitar 1,9 juta mt.

Sebagian tambahan, kapasitas produksi smelter aluminium yang semula ditargetkan beroperasi pada 2026 diperkirakan bergeser ke 2027, sementara sebagian proyek 2027 juga berpotensi mundur ke 2028.

“Secara keseluruhan, proyeksi commissioning pada 2027 relatif stabil, hanya turun 0,12 juta mt dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya, dan saat ini berada di sekitar 3,435 juta mt,” tulis SMM.

Adapun, berdasarkan data analis logam dasar Fastmarkets Andry Farida, kapasitas produksi pabrik pengolahan alumina saat ini mencapai 9 juta mt per tahun. Pabrik pengolahan tersebut membutuhkan sekitar 33—36 juta mt bauksit per tahun.

Terdapat total 16 pabrik pengolahan yang beroperasi dan masih dalam tahap rencana pembangunan, dengan sasaran kapasitas produksi bisa mencapai 27,3 juta mt.

Jika seluruh pabrik pengolahan tersebut beroperasi, kebutuhan bijih bauksit bisa mencapai 95—105 juta mt per tahun.

Untuk aluminium, terdapat empat smelter yang sudah beroperasi dengan produksi 1,1 juta mt dari total kapasitas produksi 1,98 juta mt. Smelter tersebut membutuhkan sekitar 2,2 juta mt alumina per tahun.

Pabrik pengolahan alumina yang sudah beroperasi a.l. Well Harvest Winning (Hongqiao) dengan produksi 2 juta mt, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) sebesar 300.000 mt, dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) sebesar 1 juta mt (potensial 2 juta mt).

Lalu, PT BAI Bintan Alumina Indonesia (Nanshan) sebesar 4 juta mt, serta PT Borneo Alumindo Prima - BAP (Jinjing Group) sebesar 1,75 juta mt dengan potensi ekspansi hingga 6 juta mt.

Untuk smelter aluminium yang telah beroperasi meliputi Inalum dengan produksi 250.000 mt (potensi 600.000 mt), Huachin Aluminium Indonesia sebesar 500.000 mt (potensial 1 juta mt), Alamtri (Adaro) Kaltara sebesar 100.000 mt dengan rencana peningkatan kapasitas hingga 500.000 mt dan potensi 1,5 juta mt, serta Tsingshan JV Xinfa – Juwan sebesar 250.000 mt.

Beberapa proyek dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026, yakni Tsingshan JV Xinfa – Taijing dengan kapasitas 180.000 mt (potensial 600.000 mt), Tsingshan JV Xinfa – Xianfeng sebesar 50.000 mt (potensial 250.000 mt), serta PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) sebesar 250.000 mt.

Berikut daftar rencana penambahan kapasitas produksi smelter aluminium di Indonesia yang dikompilasi SMM:

2026

  • PT Kemajuan Aluminium Industry: 130.000 metrik ton
  • PT Kalimantan Aluminium Industry: 480.000 metrik ton
  • IMIP-Taijing Aluminium dan Taiyun Aluminium: 600.000 metrik ton
  • Weda Bay Aluminium dan Xinghui Aluminium: 50.000 metrik ton

2027

  • PT Indonesia Pioneer Aluminium Industries: 350.000 metrik ton
  • Weda Bay Aluminium dan Xinghui Aluminium: 750.000 metrik ton
  • PT Bintan Electrolytic Indonesia: 250.000 metrik ton
  • Project 3: 600.000 metrik ton
  • PT Daharma Inti Bersama: 300.000 metrik ton

(azr/wdh)

No more pages