“Kami akan menang,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih. “Bagi saya, semuanya akan berjalan dengan satu atau lain cara. Prosesnya akan berlangsung cukup cepat.”
Seorang pejabat AS yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas perundingan sensitif mengatakan bahwa kesepakatan dengan Iran tidak akan tercapai jika persoalan terkait program nuklir negara tersebut tidak diselesaikan. Menurut pejabat itu, Trump bersedia memberikan keringanan sanksi kepada Iran dan mencairkan dana yang dibekukan sebagai imbalan atas kemajuan konkret dalam perundingan mengenai program nuklir.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang bertemu dengan utusan Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff, pada pekan lalu, masih berada di AS untuk mengikuti pembahasan lanjutan. Perundingan tersebut akan berlangsung melalui mediator yang mewakili kedua pihak yang berkonflik, menurut salah satu sumber.
Perundingan yang melibatkan Araghchi dijadwalkan berlangsung pada Senin pagi waktu setempat untuk meninjau proposal terbaru dan bertukar pandangan mengenai situasi terkini, menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran Students' News Agency (ISNA). Laporan tersebut menyebutkan tidak ada perwakilan AS yang akan menghadiri pertemuan itu.
Para mediator utama kini mengupayakan kesepakatan yang berbeda dari nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Iran dan AS pada pertengahan Juni. Kesepakatan tersebut sempat menghasilkan gencatan senjata dan meningkatkan lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, kesepakatan itu runtuh dalam waktu sekitar dua pekan sebelum kedua pihak mencapai kemajuan berarti dalam perundingan perdamaian permanen.
Pakistan dan Qatar menjadi mediator yang paling menonjol dalam rangkaian perundingan yang berlangsung secara tidak menentu tersebut.
MoU itu menuai kritik luas dari kalangan politik AS karena dinilai memberikan terlalu banyak keuntungan finansial kepada Iran, terutama dalam bentuk pelonggaran sanksi. Iran juga tetap membatasi pelayaran di Selat Hormuz sehingga volume lalu lintas kapal masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Pemerintah AS telah menyampaikan kepada para mediator bahwa kali ini Iran harus memberikan komitmen tegas untuk membuka kembali Selat Hormuz serta membuat sejumlah konsesi terkait program nuklirnya, menurut dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran belum segera menanggapi permintaan komentar.
Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa para negosiator mendesak Iran untuk berkompromi terkait program nuklirnya guna menghidupkan kembali perundingan perdamaian sekaligus meredakan keberatan Trump terhadap persoalan yang menjadi salah satu prioritas utamanya.
Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pekan lalu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran tidak akan melepaskan haknya untuk mengembangkan teknologi nuklir bagi kepentingan ekonomi.
Teheran menyatakan telah mengajukan proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika Washington mengambil sejumlah langkah tertentu. Para pemimpin Iran sebelumnya mengatakan AS harus mencabut blokade laut dan sanksi minyak terhadap Iran agar ada kemajuan dalam upaya mengizinkan lebih banyak kapal melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, Trump mengatakan pada Sabtu bahwa dirinya telah menolak proposal itu.
Harga minyak naik pada Senin seiring memudarnya harapan tercapainya kesepakatan terkait Selat Hormuz. Minyak mentah Brent melonjak 2% menjadi sekitar US$106,20 per barel.
Lonjakan harga energi sejak AS dan Israel memulai perang pada akhir Februari telah merugikan Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu. Dalam pemilu tersebut, Partai Demokrat secara luas diperkirakan akan meraih peningkatan perolehan suara.
(bbn)





























