Aksi jual telah mengirim imbal hasil ke level tertinggi dalam beberapa dekade di berbagai tenor, dengan seluruh tenor kecuali obligasi dua tahun diperdagangkan di atas 5%.
Kondisi tersebut memberikan tekanan besar terhadap harga obligasi yang diterbitkan pada periode suku bunga sangat rendah setelah pandemi. Harga obligasi bertenor 30 tahun yang diterbitkan pada Mei 2020 dengan tingkat bunga 1,25% telah jatuh ke rekor terendah, yakni kurang dari 43 sen per dolar.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat juga memangkas selisih imbal hasil yang diminta investor untuk memegang US Treasury 10 tahun dibandingkan obligasi dua tahun menjadi hanya 17 basis poin pada pekan lalu, level tersempit sejak awal 2025.
Fenomena yang disebut sebagai flattening kurva imbal hasil tersebut meningkatkan kemungkinan imbal hasil obligasi 10 tahun segera berada di bawah tenor yang lebih pendek, sebuah fenomena yang dikenal sebagai inversi kurva imbal hasil. Inversi kurva telah mendahului delapan resesi terakhir sejak 1960-an, meski kemampuan indikator tersebut dalam memprediksi resesi terbukti melemah setelah pandemi ketika ekonomi AS tetap tumbuh meski The Fed menaikkan suku bunga secara agresif.
The Fed menaikkan suku bunga bulan ini untuk pertama kalinya sejak 2023, dengan Ketua baru Kevin Warsh mengambil kebijakan berbeda dari pernyataan berulang Trump yang meminta bank sentral memangkas suku bunga. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mendesak pejabat The Fed untuk tetap “berpikiran terbuka”, dengan alasan peningkatan produktivitas akibat kecerdasan buatan dan deregulasi akan membantu menjaga inflasi AS tetap terkendali.
“Pesan hawkish The Fed yang terus berlanjut dan harga minyak di atas US$100 menjadi faktor penting yang mendorong sentimen bearish,” kata Damien McColough, kepala riset pendapatan tetap di Westpac Banking Corp.
Pergerakan selanjutnya di pasar obligasi kemungkinan bergantung pada perkembangan terkait Selat Hormuz dan sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis. Wall Street Journal melaporkan bahwa para negosiator mendorong Iran memberikan konsesi terkait program nuklirnya untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai dan meredakan tuntutan Trump atas isu yang menjadi salah satu prioritas utamanya.
“Penolakan Presiden Trump terhadap tawaran diplomasi Iran mendorong kenaikan kembali harga minyak dan menekan US Treasury,” kata Prashant Newnaha, senior Asia-Pacific rates strategist di TD Securities, Singapura. Kebuntuan di Timur Tengah “kemungkinan akan tetap menjadi fokus pasar hingga data PCE, ISM, dan payrolls dirilis akhir pekan ini.”
(bbn)
























