Terkait ekonomi nasional, Airlangga meyakini bahwa kondisi makro secara fundamental saat ini masih cukup baik. Namun selalu ada saja faktor di luar fundamental yang mempengaruhi pergerakan rupiah.
"Faktor sentimental kan ada juga, kita harus menyeimbangkan aja," ujar Airlangga.
Kendati rupiah melemah nyaris ke level Rp18.000/US$, Airlangga memastikan pemerintah tak akan mengubah asumsi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
"Tidak diganti, optimis," tegasnya.
Berdasarkan analisis tim riset Bloomberg Technoz, pelemahan rupiah dipicu oleh anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan tekanan jual di pasar obligasi domestik. Di pasar saham, aksi jual terjadi kala otoritas bursa membuka batas bawah harga saham dari Rp50/lembar hingga bisa menjadi Rp1/lembar.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar surat utang, menyusul kenaikan yield US Treasury. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun meningkat 4 basis poin (bps) ke 5,2%, sedangkan yield tenor 2 tahun naik 5 bps menjadi 4,9%.
Kenaikan US Treasury juga menekan pasar obligasi domestik. Bahkan, surat utang pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang sempat bertahan kini mulai tertekan aksi jual dan mengalami kenaikan yield 2,3 bps menjadi 7,12%, dari sebelumnya 7,09%.
(lav)





























