Logo Bloomberg Technoz

Menurut Jeffrey, skema perdagangan short selling itu dapat menjadi instrumen investor untuk mendukung rencana investasinya. Kendati demikian, dia menekankan, risiko yang relatif besar dari model perdagangan ini.

“Oleh karena itu diharapkan adalah investor yang sudah berpengalaman yang menggunakan short selling,” kata dia.

Sebelumnya, otoritas bursa membeberkan tahap awal penerapan transaksi short selling akan mencakup sejumlah saham dari kelompok indeks bergengsi LQ45.

Namun, jumlahnya masih akan terbatas dan tidak seluruh saham dalam indeks tersebut dapat ditransaksikan melalui mekanisme short selling.

Selain itu, Jeffrey menegaskan daftar efek short selling tidak akan sama dengan daftar saham yang dapat ditransaksikan menggunakan fasilitas margin.

Untuk tahap awal, BEI akan membatasi jumlah saham yang masuk dengan mempertimbangkan proses pembelajaran serta respons pasar.

Selain kriteria saham, BEI juga akan membatasi Anggota Bursa (AB) yang dapat menjalankan transaksi short selling. AB harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk melihat rata-rata nilai transaksi harian dalam satu bulan terakhir.

Jeffrey mengatakan terdapat batas maksimum transaksi short selling sebesar 0,02% dari saham yang ada. Pembatasan tersebut diterapkan untuk mencegah aktivitas dan spekulasi yang berlebihan, baik dari sisi AB maupun investor.

Dalam kajian BEI sebelumnya, penerapan short selling juga diperkirakan berpotensi meningkatkan likuiditas pasar hingga 17%, dengan asumsi terdapat lima AB yang menjalankan transaksi tersebut.

Namun, dampak aktual terhadap likuiditas akan bergantung pada jumlah saham dan AB yang nantinya masuk dalam skema tersebut.

(naw)

No more pages