Logo Bloomberg Technoz

Ketidakseimbangan atara pemulihan aktivitas ekonomi domestik yang tergambar dalam data proyeksi impor dengan perlambatan ekspor mengindikasikan bahwa sektor manufaktur dan komoditas sedang menghadapi lemahnya permintaan global. 

Kondisi itu berpotensi mengiring rupiah menuju pelemahan lebih lanjut di pekan ini. 

Dari sisi eksternal, pasar obligasi global Amerika Serikat (AS) masih mengalami tekanan aksi dengan yield tenor 10 tahun berada di level 5,2%. Di samping itu, pasar obligasi AS juga  menyiratkan adanya risiko stagnasi. Selisih yield antara US Treasury tenor 10 tahun dengan tenor 2 tahun kian menyempit hingga 17 basis poin (bps) pada pekan lalu. 

Tekanan itu merambat pada pasar obligasi Jepang yang mengalami kenaikan yield 2,2 bps ke 3,07% untuk tenor 10 tahun. Begitu juga yield obligasi Australia naik 4,4 bps ke 5,41%. Sementara yield Korea Selatan, China justru stabil di kisaran 4,36% dan 1,66%. Disusul oleh obligasi Malaysia yang berberak di 3,95%, dan Singapura 2,45%. 

Obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS (INDON) juga tak luput dari tekanan dan naik 3, bps ke 6,07%, begitu juga obligasi Filipina dengan mata uang dolar naik 1,9 bps ke 6,05%. 

Namun, obligasi Ri berdenominasi rupiah tenor 10 tahun relatif stabil di 7,09%, turun 1,6 bps. 

Pergerakan yield di pasar obligasi Asia beresonansi pada gerak mata uang kawasan. Pagi ini, baht Thailand melemah tajam bersama yen Jepang, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yuan offshore. 

Pergerakan mata uang Asia, Senin (28/9/2026). (Bloomberg)

Pekan ini, S&P Global akan merilis data aktivitas manufaktur di berbagai negara. Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai tekanan harga, kondisi permintaan eksternal, serta aktivitas manufaktur. 

Sementara itu, belum ada kemajuan dari resolusi konflik antara AS-Iran. Iran tetap mempertahankan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz selama tujuh hari yang telah ditolak Presiden AS Donald Trump. Sikap tersebut berpotensi semakin menunda pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu dan membebani harga minyak, yang pada akhirnya ikut menekan mata uang Asia. 

Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah spot diperkirakan akan bergerak di rentang Rp17.850-Rp17.950/US$.

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Senin 28 September 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih ada risiko melemah hari ini. Cermati support di level Rp17.910/US$ dengan target pelemahan kedua diharapkan tertahan di Rp17.950/US$.

Apabila menjebol kedua support tersebut, maka rupiah bisa saja melemah lebih lanjut hingga menembus Rp18.000/US$ sebagai support terkuatnya.

Namun apabila rupiah mampu menguat hingga berhasil menembus resistance, maka menarik dicermati area Rp17.850/US$ dan selanjutnya Rp17.800/US$. Resistance lanjutan adalah Rp17.700/US$ sebagai target paling optimistis.

- Dengan asistensi M Julian Fadli -

(riset/aji)

No more pages