Logo Bloomberg Technoz

Kalender Ekonomi: Data Inflasi dan Perdagangan Patut Dicermati

Redaksi
28 September 2026 06:54

Inflasi September 2026 diperkirakan 3,3%. (Diolah dari Berbagai Sumber)
Inflasi September 2026 diperkirakan 3,3%. (Diolah dari Berbagai Sumber)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pekan ini kembali diwarnai sejumlah agenda ekonomi dan kebijakan penting global. Di Amerika Serikat (AS), perhatian pasar tertuju pada indeks Price Consumer Expenditure (PCE) Agustus yang dirilis 30 September dan menjadi salah satu indikator inflasi utama bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Sehari kemudian, pasar akan mencermati ISM Manufacturing, klaim pengangguran awal, serta sejumlah indikator aktivitas ekonomi AS. Puncak kalender ekonomi AS pekan ini jatuh pada 2 Oktober, dengan adanya rilis nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran September, yang akan menjadi indikator penting untuk menilai ketahanan pasar tenaga kerja AS.

Di kawasan Asia-Pasifik, Reserve Bank of Australia (RBA) akan mengumumkan keputusan suku bunga pada 29 September. Bloomberg Economics memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 4,6%, karena kenaikan biaya energi membuat risiko inflasi tetap tinggi.


Sementara itu, China akan merilis PMI manufaktur resmi pada 30 September. PMI China diperkirakan menunjukkan perbaikan aktivitas ekonomi. Sektor manufaktur kemungkinan kembali masuk zona ekspansi, didukung ekspor yang tetap kuat, serta adanya peningkatan belanja pemerintah yang diperkirakan turut mendorong sektor konstruksi.

Sedangkan, Jepang akan merilis data produksi industri dan penjualan ritel, serta risalah rapat bank sentral. Peningkatan belanja pemerintah juga diperkirakan mendorong sektor konstruksi. Survei Tankan Bank of Japan (BoJ) kemungkinan menunjukkan penguatn sentimen bisnis dan kenaikan ekspektasi inflasi.