Menurut Wahyuni, setiap kenaikan 10 µg/m3 PM2.5 akibat kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan sekitar 6% rawat inap karena asma dan 7% kunjungan IGD terkait asma.
Berikut rekomendasi UKK Respirologi IDAI untuk melindungi anak dari paparan asap karhutla:
1. Pantau kualitas udara
Orang tua dianjurkan memantau ISPU atau AQI secara rutin selama musim kebakaran, meskipun titik api berada jauh dari lokasi anak.
2. Siapkan ruang bersih
Gunakan ruangan dengan sedikit jendela dan pintu serta, bila tersedia, alat pembersih udara portabel yang tidak menghasilkan ozon.
3. Kurangi paparan asap di rumah
Selama kabut asap, anak sebaiknya berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup. Jika menggunakan AC, gunakan mode sirkulasi udara dalam ruangan.
4. Hindari sumber polusi dalam ruangan. Rokok, kompor gas atau kayu bakar, lilin, aerosol, serta aktivitas memasak yang menghasilkan banyak asap sebaiknya dihindari.
5. Batasi aktivitas luar ruangan
Aktivitas fisik berat anak di luar ruangan perlu dibatasi ketika udara terlihat atau berbau berasap maupun ketika kualitas udara buruk.
6. Gunakan perlindungan saat keluar
Anak berusia dua tahun atau lebih dianjurkan memakai masker jika harus keluar rumah. Kacamata juga dapat digunakan untuk mencegah iritasi mata.
7. Pastikan obat tersedia
Anak dengan asma, alergi, atau penyakit kronis lainnya perlu memastikan obat rutin, termasuk obat pereda cepat atau rescue inhaler, selalu tersedia.
8. Segera cari pertolongan medis
Anak perlu dibawa ke fasilitas kesehatan jika mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan dan minum.
Wahyuni juga mengingatkan asap karhutla dapat memperburuk kondisi asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronis lainnya. Anak dengan penyakit jantung bawaan atau riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok yang berisiko mengalami perburukan.
"Kami dari UKK Respirologi IDAI mengajak semua pihak—orang tua, guru, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah—untuk bersinergi dalam melindungi anak-anak Indonesia dari bahaya asap karhutla," tutup Wahyuni.
Kementerian Kesehatan RI mencatat 113.336 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 9 September 2026 di tujuh provinsi terdampak, termasuk 26.545 kasus pada balita.
Di Riau, 10.783 kasus ISPA tercatat pada Agustus–September 2026, terbanyak pada anak usia 0–9 tahun. Sementara itu, Kalimantan Selatan melaporkan 524 kasus pneumonia selama periode kemarau dan karhutla, dan RS Bhayangkara Pontianak mencatat kenaikan kasus ISPA dan pneumonia sebesar 10–20% sejak karhutla di Kalimantan Barat.
(lav)



























