“Standarisasi pengujian kalori secara berkala menjadi syarat mutlak agar efisiensi biaya tidak memicu penurunan mutu atau kerusakan alat pemrosesan,” tambahnya.
Blending batu bara dalam industri semen merupakan proses pencampuran dua atau lebih jenis batu bara yang memiliki kualitas berbeda untuk menghasilkan bahan bakar campuran yang sesuai dengan standar operasional tanur putar (rotary kiln).
Metode ini diterapkan guna menekan biaya bahan bakar dengan memanfaatkan batu bara kalori rendah yang lebih murah, tanpa mengorbankan kestabilan proses pembakaran klinker.
Metode blending dilakukan melalui dua teknik utama di area stok atau fasilitas produksi, yaitu stockpile blending dan bin blending.
Pada stockpile blending, pencampuran dilakukan secara mekanis di lapangan penumpukan (coal yard) menggunakan alat berat seperti stacker-reclaimer dengan pola penuangan teratur (chevron atau windrow).
Sementara itu, bin blending menggunakan sistem pengumpanan terpisah (feeder bin) di mana masing-masing kualitas batu bara diatur laju alirnya secara otomatis via weigh feeder sebelum masuk ke penggilingan coal mill.
Masalah DMO
Selain persoalan alam, masalah kian rumit karena pemenuhan kewajiban pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) terganjal oleh patokan harga kontrak yang kurang fleksibel, terutama saat pengusaha harus menanggung lonjakan biaya logistik akibat pengalihan rute pengiriman.
Dia mengonfirmasi para pemasok batu bara kini berada dalam posisi yang makin sulit untuk memenuhi kuota DMO pada tingkat harga tersebut.
Besaran domestic price obligation (DPO) batu bara senilai US$90 per ton untuk industri semen dinilai tidak lagi mampu menutup modal operasional dan biaya pengiriman yang melonjak.
Meski begitu, Hasstriansyah tidak dapat memberikan informasi mengenai usulan asosiasi terhadap harga baru DMO batu bara yang dinilai ideal untuk industri semen.
“Untuk harga DMO kami tidak berani mengajukan angka, tetapi mudah-mudahan bisa [di atas US$90/ton],” katanya.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala. Pemerintah pun mencari sumber pasokan alternatif untuk menutup kekurangan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan penyebab kekurangan pasokan batu bara untuk industri semen tak lepas dari gangguan jalur logistik.
Dia menjelaskan, saat ini, kondisi sungai-sungai yang menjadi jalur logistik batu bara surut seiring dengan fenomena kemarau panjang dan El Niño.
Menurut Tri, kondisi itu menghambat proses pengiriman batu bara sehingga pasokan yang diterima sejumlah perusahaan semen ikut terdampak.
"[Masalah industri] semen itu ada berapa memang laporan terkait dengan pasokan [batu bara] yang kurang. Beberapa karena sungai surut," kata Tri di ICE BSD, Selasa (22/9/2026).
Terkait dengan hal ini, Tri mengatakan, Kementerian ESDM bakal mencari pasokan alternatif untuk menutupi kekurangan emas hitam bagi industri semen.
"Kami di [Ditjen] Minerba berupaya untuk mengalihkan atau mencari dari tempat lain. Mudah-mudahan solved [terselesaikan] minggu ini atau minggu depan," tutur Tri.
Namun demikian, Tri tidak menjelaskan berapa kekurangan pasokan batu bara untuk industri semen tersebut.
(smr/wdh)




























