Lebih lanjut, Ember mencatat smelter aluminium baru—yang sebagian besar dimiliki perusahaan patungan Indonesia dan China — cenderung menggunakan batu bara sebagai sumber listrik PLTU captive.
Ember mengungkapkan berdasarkan data Earthwise, hingga 2025, terdapat lebih dari 1,3 gigawatt (GW ) PLTU batu bara captive yang didedikasikan untuk smelter aluminium dan alumina di Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah.
Kondisi tersebut berbeda dengan smelter aluminium pertama Indonesia. Ember mencatat pembangkit listrik tenaga air (PLTA) masih menyumbang sekitar 4 TWh atau 33% dari total pembangkit captive untuk industri aluminium pada 2025.
Pasokan tersebut terutama berasal dari PLTA Sigura–Gura dan Tangga di sepanjang Sungai Asahan yang memasok listrik ke smelter aluminium PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Kuala Tanjung, Sumatra Utara.
Kendati begitu, Ember mencatat porsi tenaga air dalam pasokan listrik aluminium mulai tergerus seiring dengan beroperasinya smelter-smelter baru yang lebih bergantung PLTU batu bara.
“Pangsa tenaga air dalam pasokan listrik industri ini terus menyusut seiring dengan beroperasinya smelter-smelter baru berbahan bakar batu bara,” tegas Ember.
Secara keseluruhan, Ember mencatat produksi listrik PLTU batu bara captive di Indonesia telah setara sekitar 58% produksi listrik dari PLTU batu bara on grid.
Adapun, PLTU captive merupakan pembangkit listrik yang dibangun perusahaan untuk memasok fasilitasnya sendiri, tak disalurkan ke jaringan listrik PT PLN (Persero).
Ember mencatat produksi listrik dari PLTU captive pada 2026 mencapai 134 TWh atau setara 58% produksi listrik PLTU batu bara yang terhubung ke sistem PLN sebesar 233 TWh.
“Pembangkit ini sebagian besar berada di luar komitmen transisi energi Indonesia, setara dengan sekitar 135 Mt emisi CO₂, serta tambahan 30 TWh pembangkitan dari pembangkit batu bara captive dibandingkan dengan data Buku Panduan Statistik Energi dan Ekonomi ESDM,” tulis Ember.
Lembaga tersebut memprediksi PLTU batu bara captive menyetor emisi sekitar 135 juta metrik ton karbon dioksida atau CO₂ pada 2025, naik dari 120 juta ton pada 2024 atau setara dengan 48% emisi dari pembangkit listrik yang terhubung ke jaringan di Indonesia.
Adapun, kapasitas PLTU batu bara di Indonesia yang terafiliasi China tercatat mencapai 17,1 GW sejak Presiden Xi Jinping mengumumkan komitmen untuk menghentikan pembangunan PLTU di luar negeri pada 2021.
Hal itu terkuak di dalam studi terbaru Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), yang terbit pada Kamis (24/9/2026).
Secara global, padahal, proyek sejenis yang telah dibatalkan mencapai 61,5 GW—setara dengan 6,4 miliar ton emisi CO₂ sepanjang umur pakainya. Sinyal kebijakan energi Indonesia dinilai menjadi salah satu faktor pendorongnya.
Indonesia menampung mayoritas dari kapasitas PLTU captive operasional terkait dengan China yang tercatat dalam analisis ini (94% dari jumlah total 13,2 GW).
"Temuan ini memperlihatkan tantangan transisi energi Indonesia tidak dapat dilihat hanya dari sisi sumber pembiayaan atau asal investasi. Ekspansi hilirisasi Indonesia, seperti nikel dan aluminium, telah menciptakan kebutuhan energi yang besar," beber Industry Analyst CREA Syahdiva Moezbar, Kamis (24/9/2026).
Laporan terbaru think tank asal Finlandia itu yang bertajuk Five Years On: China Seeds Overseas Renewables Growth But Coal Ban Gaps Persist ini mengungkap, dengan 61,5 GW telah dibatalkan, masih terdapat 36,6 GW kapasitas PLTU terafiliasi China di luar negeri yang telah beroperasi sejak komitmen Xi hingga Juli 2026.
Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar, dengan kapasitas mencapai 17,1 GW, jauh melampaui Vietnam (3,8 GW), dan Pakistan (3,4 GW).
Dari jumlah tersebut, porsi PLTU captive yang terbesar, tumbuh dari 0,3 GW pada 2021 menjadi 12,5 GW pada 2026.
Sebagai catatan, angka 0,3 GW pada 2021 tidak memperhitungkan kapasitas beroperasi sebelum komitmen President Xi, menjadikan 12,5 GW murni penambahan kapasitas pascakomitmen.
Dalam riset berbeda, CREA meramal Indonesia harus membangun PLTU batu bara captive dengan kapasitas total 8 GW untuk memasok listrik kebutuhan smelter alumina dan aluminium, termasuk milik investor China yang sedang getol berekspansi ke Tanah Air.
CREA mencatat ekspansi smelter aluminium di Indonesia didominasi oleh investor asal China, di mana sekitar 75% dari semua proyek alumina dan aluminium domestik merupakan dukungan investasi Negeri Panda.
CREA mencatat saat ini hampir 1,8 GW PLTU captive telah beroperasi untuk mendukung industri aluminium.
Nantinya, kapasitas PLTU captive diprediksi bertambah 8 GW untuk menyokong listrik 32 proyek industri aluminium di provinsi kaya bauksit dan pusat industri di luar Jawa.
"Ekspansi aluminium Indonesia mengikuti preseden berbahaya nikel, yang menunjukkan kurangnya perencanaan antisipatif untuk lokasi industri baru yang akan ditempatkan di dekat potensi energi bersih, atau dirancang untuk konektivitas jaringan di masa depan,” kata Analis CREA Katherine Hasan dalam riset berjudul Indonesia Aluminium Downstream: Following Nickel Into a Captive Coal Boom.
Dia menyatakan jika seluruh smelter yang direncanakan dibangun sesuai rencana, industri aluminium di Tanah Air dapat menyebabkan ledakan penggunaan batu bara industri secara mandiri.
Dia menilai hal tersebut bakal melemahkan target dekarbonisasi nasional, mengunci pertumbuhan industri pada jalur berintensitas karbon tinggi, serta membebankan biaya lingkungan dan kesehatan pada masyarakat.
(wdh)




























