Logo Bloomberg Technoz

Arab Saudi dikabarkan mencegat rudal yang ditembakkan ke arah pelabuhan Yanbu di Laut Merah dan Kota Taif pada Kamis, saat kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Saudi. 

Di sisi lain, tanda-tanda pengetatan pasokan minyak di pasar fisik mulai terlihat. Bloomberg News melaporkan para trader harus membayar premi tertinggi sepanjang sejarah untuk mendapat minyak dalam waktu dekat di pusat penyimpanan utama AS, di Oklahoma. 

Dua kabar ini menggambarkan bahwa pasar energi sedang menghadapi dua kondisi yang saling bertentangan. Kesepakatan AS-Iran meredakan premi risiko geopolitik, tapi di saat yang lain gangguan pasokan dan konflik di wilayah lainnya masih berlangsung dan membuat harga minyak bertahan di level tinggi. 

Sementara pasar obligasi masih tertekan dengan yield US Treasury tenor acuan 10 tahun kembali naik 7,8 basis poin (bps) ke 5,19%. Begitu juga dengan yield obligasi pemerintah Jepang naik 3,4 bps ke 3,09%, obligasi pemerintah Inggirs naik 3,5 bps ke 5,38%, dan Jerman naik 4,5 bps 3,59%.

Sementara, obligasi Korea Selatan dan China relatif stabil dengan yield di 4,36% dan 1,66%. 

Dari pasar domestik, yield obligasi pemerintah Indonesia dalam mata uang dolar AS terkerek naik 1,8 bps ke 6,05%, sedangkan dalam mata uang rupiah relatif stabil di 7,09%. Namun, tenor obligasi berdurasi lebih panjang mengalami aksi jual. Seperti tenor 12 tahun mencatat kenaikan yield 4,7 bps ke 7,17%, dan tenor 16 tahun naik 2,3 bps ke 7,19%. 

Tekanan di pasar obligasi membuat penguatan rupiah di pasar spot cenderung terbatas. Kenaikan yield dari pasar obligasi global, khususnya US Treasury, kembali memperlebar daya tarik aset dolar AS. 

Dengan mempertimbangkan kombinasi tersebut, rupiah spot diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850-17.950/US$. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih berisiko melemah, usai menembus support potensial trendline channel sebelumnya. Target support selanjutnya menuju level Rp17.950/US$ dengan target pelemahan kedua berpotensi tertahan di level Rp17.980/US$.

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 25 September 2026 (Sumber: Bloomberg)

Jika nantinya nilai tukar rupiah lanjut melemah, maka masih ada kemungkinan hingga melangkahi Rp18.000/US$.

Sementara itu, trendline sebelumnya dalam perspektif harian (daily time frame) menjadi resistance psikologis potensial di level Rp17.850/US$. Kemudian target penguatan lanjutan untuk kembali mencapai Rp17.800/US$.

- Dengan asistensi M Julian Fadli -

(riset/aji)

No more pages