Logo Bloomberg Technoz

Dia mengelaborasi kelangkaan bahan batu bara tersebut memaksa beberapa pabrik menghentikan sementara fasilitas produksi mereka, yang mengakibatkan hilangnya potensi pasokan klinker atau bahan setengah jadi semen hingga mencapai 1,2 juta ton.

Lilik juga menegaskan masalah logistik yang sebelumnya sudah terjadi kini kian diperparah oleh fenomena El Niño dan kekeringan aliran sungai yang menghambat jalur distribusi pasokan batu bara ke pabrik-pabrik semen.

“El Niño dan kekeringan sungai memperparah kondisi yang ada, pada logistik batu bara. Sebelumnya memang ada masalah,” tambahnya.

Untuk diketahui, batu bara memiliki peran ganda yang sangat vital dalam industri semen, yaitu sebagai sumber energi panas sekaligus penyumbang bahan baku.

Jenis batu bara yang paling umum dan ideal digunakan oleh pabrik semen adalah batu bara bituminus (bituminous coal), serta sub-bituminus tingkat tinggi.

Pemilihan jenis ini didasari oleh nilai kalornya yang tinggi (sekitar 5.000—6.500 kcal/kg) sehingga mampu mencapai suhu kalsinasi yang dibutuhkan dengan cepat.

Selain itu, batu bara jenis ini memiliki kadar air (moisture) yang relatif rendah serta kadar zat terbang (volatile matter) yang pas untuk menjaga nyala api tetap stabil di dalam tanur.

Cari Alternatif

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala. Pemerintah pun mencari sumber pasokan alternatif untuk menutup kekurangan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan penyebab kekurangan pasokan batu bara untuk industri semen tak lepas dari gangguan jalur logistik.

Dia menjelaskan, saat ini, kondisi sungai-sungai yang menjadi jalur logistik batu bara surut seiring dengan fenomena kemarau panjang dan El Niño.

Menurut Tri, kondisi itu menghambat proses pengiriman batu bara sehingga pasokan yang diterima sejumlah perusahaan semen ikut terdampak.

"[Masalah industri] semen itu ada berapa memang laporan terkait dengan pasokan [batu bara] yang kurang. Beberapa karena sungai surut," kata Tri di ICE BSD, Selasa (22/9/2026).

Terkait dengan hal ini, Tri mengatakan, Kementerian ESDM bakal mencari pasokan alternatif untuk menutupi kekurangan emas hitam bagi industri semen. 

"Kami di [Ditjen] Minerba berupaya untuk mengalihkan atau mencari dari tempat lain. Mudah-mudahan solved [terselesaikan] minggu ini atau minggu depan," tutur Tri.

Namun demikian, Tri tidak menjelaskan berapa kekurangan pasokan batu bara untuk industri semen tersebut.

Industri semen masuk dalam daftar industri penerima DMO batu bara dengan harga US$90/ton.

Harga batasan ini jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan harga pasar ekspor global agar pabrik semen nasional memperoleh bahan baku energi dengan harga yang transparan dan stabil, sehingga harga jual semen ke masyarakat tetap terjaga.

(smr/wdh)

No more pages