Harga minyak AS naik pada awal perdagangan setelah minyak Brent melonjak 3,9% menjadi US$103,08 per barel.
Pada Rabu, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11%, kenaikan harian terbesar sejak gejolak pasar yang dipicu oleh peluncuran tarif Presiden Donald Trump pada April 2025.
Aksi jual semakin dalam setelah lelang surat utang tenor lima tahun senilai US$70 miliar berlangsung lemah, mendorong imbal hasilnya menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang utama.
Prospek kenaikan biaya energi yang berhadapan dengan perekonomian AS yang masih kuat kemungkinan akan terus menekan pasar obligasi dan saham, seiring investor menilai kembali seberapa jauh The Fed perlu memperketat kebijakan moneternya.
Para trader meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut, sehingga data inflasi dan pasar tenaga kerja yang akan dirilis mendatang menjadi perhatian utama.
“Pasar sedang memberi tahu kita bahwa kita telah memasuki siklus pengetatan kembali yang sesungguhnya,” kata Tony Miano dari Wells Fargo Investment Institute.
“Seluruh kurva imbal hasil melakukan repricing secara bersamaan, yang berarti tingkat diskonto yang lebih tinggi untuk saham, biaya hipotek dan pinjaman korporasi yang lebih mahal, serta ambang yang lebih tinggi bagi aset berisiko.”
Sebelumnya, data menunjukkan suku bunga hipotek AS naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun, sementara indeks awal aktivitas bisnis komposit AS dari S&P Global naik pada September ke level tertinggi sejak Juli 2021, menandakan pertumbuhan aktivitas bisnis yang lebih cepat.
Data ekonomi yang lebih kuat dan lonjakan harga minyak di tengah ketegangan di Timur Tengah mendorong trader meningkatkan taruhan terhadap pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut.
Para pejabat menaikkan biaya pinjaman pekan lalu untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ke kisaran 3,75%-4%, dalam langkah yang menurut Ketua The Fed Kevin Warsh telah menghapus “sejumlah akomodasi” dari kebijakan moneter.
Swap kini sepenuhnya mencerminkan tiga kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam setahun ke depan, dengan lindung nilai yang signifikan untuk kenaikan keempat.
Jika terealisasi, langkah tersebut akan membawa target suku bunga bank sentral ke kisaran 4,75%-5%.
“Anda tidak ingin berdiri di depan kereta barang hari ini,” kata Sean Simko, kepala manajemen investasi pendapatan tetap di SEI Investments.
“Anda melihat tiga faktor sekaligus—data ekonomi yang lebih kuat, tekanan dari sisi pasokan yang mendorong imbal hasil obligasi lima tahun ke level yang belum kita lihat selama bertahun-tahun, serta pandangan bahwa inflasi tetap persisten secara global.”
Para trader juga memantau perkembangan geopolitik. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya tidak akan mengizinkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz selama sanksi dan blokade AS masih berlaku, menegaskan besarnya tantangan untuk mencapai kesepakatan damai meskipun terdapat upaya untuk menghidupkan kembali perundingan.
Di pasar komoditas lainnya, harga emas turun sebanyak 2% menjadi sekitar US$4.275 per troy ounce pada Rabu ketika imbal hasil obligasi naik. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan harga emas karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.
Wall Street juga bersiap menghadapi pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada Kamis, yang akan dilanjutkan dengan jamuan makan malam bersama para pemimpin perusahaan AS. Trump mengatakan kepada wartawan pekan lalu bahwa ia memperkirakan dapat mencapai “banyak kesepakatan berbeda” dalam acara tersebut.
(bbn)































