Logo Bloomberg Technoz

UNTR melalui PAMA sebenarnya memiliki kapasitas produksi batu bara hingga 15 juta ton. Namun, RKAB yang disetujui pada pertengahan Juni 2026 baru mencapai 7,4 juta ton.

Namun, pada Agustus 2026, perseroan memperoleh kenaikan RKAB menjadi 12,4 juta ton. “Di Agustus ini kami sudah mendapatkan kenaikan RKAB ke 12,4 juta ton,” kata Vilihati.

Meski belum sampai full capacity, namun kenaikan tersebut setidaknya membuat UNTR memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan produksi dan penjualan batu bara hingga akhir tahun.

“Namun, memang ada lagi tantangannya. Tantangannya ini sekarang itu lagi dry season di area Kalimantan Tengah,” ujarnya.

“Jadi kami produksi dan nanti kita jualannya mungkin di November-December, untuk memaksimalkan [kemampuan] kami sebagai penjualan batubara,” kata Vilihati.

Selain batu bara, UNTR juga mencatat adanya perkembangan pada bisnis nikel. Vilihati mengatakan kenaikan harga nikel pada tahun ini turut membantu mengimbangi kinerja dari sisi volume.

Di sisi lain, secara keseluruhan pendapatan perseroan untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026 tercatat turun 15% menjadi Rp5,8 triliun. Menurut Vilihati, kondisi tersebut terutama berkaitan dengan tingkat aktivitas dan volume produksi pertambangan batu bara.

Meski demikian, revenue PAMA masih tumbuh. Perseroan juga memperoleh manfaat dari penguatan dolar AS terhadap rupiah terhadap pendapatan yang dimiliki perseroan.

Vilihati menekankan perseroan tetap perlu memperhatikan kondisi nilai tukar dan perekonomian domestik.

“Kami harus melihat Indonesia ini kan kita harus menjaga juga supaya Rupiah kita menguat juga, supaya daya beli atau purchasing power dan ekonomi Indonesia juga semakin baik,” tuturnya.

Di tengah tekanan akibat RKAB, perseroan juga melakukan penyesuaian terhadap belanja modal. Menurut Vilihati, UNTR melakukan pengurangan capex sekaligus efisiensi dan melakukan prioritas terhadap belanja modal untuk menghadapi tantangan bisnis tahun ini.

(dhf)

No more pages