Penurunan stok tersebut mayoritas disebabkan oleh terhambatnya pengiriman pasokan melalui jalur laut (oil on water).
Kondisi tersebut membawa total stok minyak mentah dunia berada di bawah ambang batas 7,9 miliar barel pada akhir Juli, sekaligus menjadi level terendah sejak April 2025.
Secara akumulatif sejak akhir Februari hingga akhir Juli 2026, dunia telah menguras cadangan minyak sebanyak 410 juta barel dengan laju rata-rata 2,7 mbd.
Meski pasar diproyeksikan akan kembali mengalami surplus menjelang akhir tahun, IEA memperingatkan bahwa risiko krisis energi masih sangat tinggi. Urgensi untuk memulihkan jalur pelayaran internasional makin mendesak karena cadangan penyangga (buffer stock) internasional kian menipis.
“Lonjakan defisit ini juga dipicu oleh dinamika konflik geopolitik yang belum mereda. Kegagalan kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat pada pertengahan Juni lalu membuat pemulihan pasokan dari kawasan Teluk kembali terhenti, hingga mendongkrak harga minyak mentah ke level tertinggi dalam dua bulan terakhir,” jelas IEA.
Selama periode konflik tersebut, harga minyak mentah sempat berfluktuasi ekstrem hingga di rentang pergerakan sebesar US$40 per barel. Setelah sempat menyentuh level US$105 per barel pada 23 Juli akibat memanasnya ketegangan, harga acuan minyak jenis North Sea Dated kini bergerak stabil di kisaran US$92 per barel.
Kondisi pasar kian diperparah oleh penutupan rute distribusi vital di kawasan Timur Tengah, setelah Selat Hormuz kembali tertutup secara efektif pada awal Juli akibat serangan terhadap infrastruktur minyak dan kapal tanker.
“Mengingat belum tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menjamin kelancaran lalu lintas melalui Selat Bab el-Mandeb, kami kembali menurunkan estimasi pasokan untuk sisa tahun ini,” tulis IEA.
Secara total, IEA mengestimasi pasokan minyak global sepanjang 2026 akan menyusut sebesar 4,3 mbd menjadi 102 mbd. Pertumbuhan produksi dari kawasan Amerika sebesar 1,4 mbd dinilai belum cukup untuk menutup kemerosotan produksi di kawasan Timur Tengah dan Rusia.
Di sisi lain, IEA memprediksi permintaan minyak akan turun sebesar 1,6 juta barel per hari atau mbd pada 2026.
"Permintaan minyak dunia diperkirakan akan turun sebesar 1,6 juta barel per hari. Angka koreksi tersebut jauh lebih dalam dibandingkan dengan estimasi IEA pada Juli 2026 dengan perkiraan penurunan hanya sebesar 510.000 barel per hari,” ungkap laporan tersebut.
Gangguan rantai pasok berkepanjangan akibat penutupan Selat Hormuz tidak hanya membatasi ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga menekan daya beli konsumen.
“Tingginya harga bahan bakar memberikan tekanan tambahan yang menurunkan tingkat konsumsi minyak,” terang IEA.
Penurunan permintaan paling dalam diprediksi terjadi pada kuartal II-2026 sebesar 4,9 mbd dan kuartal III-2026 sebesar 2,8 mbd, sebelum akhirnya berbalik tumbuh tipis 580 kbd pada kuartal IV-2026.
(smr/ros)




























