Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps. Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Rabu (12/8/2026).
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyumbang 17,11 poin
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menyumbang 10,93 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyumbang 7,58 poin
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyumbang 7,24 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Tbk (BBRI) menyumbang 5,87 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyumbang 5,23 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk Tbk (AMMN) menyumbang 5,08 poin
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk Tbk (DSSA) menyumbang 4,74 poin
- PT Bank Central Asia Tbk Tbk (BBCA) menyumbang 4,43 poin
- PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyumbang 4,02 poin
Adapun saham–saham unggulan LQ45 lainnya juga menjadi pendorong penguatan IHSG, saham PT Indosat Tbk (ISAT) melonjak 14,4% dan saham PT XLSMART Tbk (EXCL) yang melesat 6,22%. Sama halnya, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga lompat 5,44%.
Optimisme Pasar Sambut Pengumuman MSCI
Investor cenderung optimis menjelang pengumuman rebalancing indeks MSCI yang akan diumumkan besok pagi, Kamis (13/8/2026), mengutip Phintraco Sekuritas.
Sikap optimistis itu pun tercermin dari arah teknikal IHSG yang berhasil bertahan di atas support 6.250–6.270 hingga berbalik menguat dan ditutup di atas level MA–5 hingga MA–50.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.400 pada perdagangan Kamis (13/8/2026),” analisis Phintraco Sekuritas.
Adapun penyesuaian konstituen dan portofolio pengelola indeks global tersebut akan berlaku efektif mulai 1 September 2026. Investor mencermati hasil review ini di sisi MSCI masih mempertahankan kebijakan freeze terhadap sejumlah perubahan indeks saham Indonesia.
Yang terpenting adalah membaca tone keputusan MSCI dan membedakan apakah hasilnya bersifat relief, neutral, atau negative surprise. Jika hasilnya positif, misalnya ada indikasi pencabutan atau pelanggaran freeze dan MSCI melihat progres reformasi secara lebih konstruktif, maka potensi terjadi relief rally cukup besar, terutama saham big caps yang memiliki fundamental kuat, melansir Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam catatan terbarunya, Rabu.
“Sementara itu, jika freeze masih dipertahankan tetapi tidak ada eskalasi risiko, maka para pelaku pasar akan menerapkan strategi akumulasi secara selektif,” terang Mirae Asset Sekuritas.
Dan jika MSCI kembali memberikan warning keras atau memperbesar risiko reclassification, maka para pelaku pasar akan mengurangi eksposur pada saham yang memiliki masalah free float, konsentrasi kepemilikan, maupun likuiditas.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyarankan investor untuk mengkaji arah kebijakan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) terhadap saham Indonesia.
“Base case, freeze bertahan Agustus ini, pelonggaran substantif baru mungkin muncul di Market Accessibility Review berikutnya,” mengutip catatan BRI Danareksa Sekuritas.
(fad/wep)






























