Logo Bloomberg Technoz

“Harapannya nanti, semua transmisi dari BI Rate akan tertransmisi ke pasar uang antarbank. Dan setelah pasar uang antarbank yang bergerak simetris di dalam koridor tadi, 75 di atas BI Rate, 75 di bawah BI Rate, itu nanti akan tertransmisi dia ke kegiatan ekonomi di perbankan, kegiatan ekonomi di pertumbuhan ekonomi, dan ke inflasi,” kata Firman.

Dia menegaskan, penyesuaian kedua instrumen tersebut dilakukan untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter ke depan, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Adalah bagian dari upaya kita untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter. Kita lakukan sekarang karena kita harus perkuat buffer untuk ke depannya, agar kebijakan kita menjadi lebih efisien dan harapannya menjadi efektif buat ke depan,” ujarnya.

Alasan Penurunan GWM dan Deposit Facility

Menurut Firman, penurunan GWM dilakukan untuk menyeimbangkan likuiditas di pasar uang dan perbankan di tengah pengaruh suku bunga BI, prospek terhadap pertumbuhan ekonomi dan juga inflasi

Pasalnya, pertumbuhan kredit perbankan dinilai cukup tinggi, sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) belum seimbang dengan laju penyaluran kredit. Selain itu, Firman menyinggung mengenai penempatan dana pemerintah di perbankan yang juga  turut memengaruhi kondisi likuiditas.

“Kita coba kalibrasi sedemikian rupa sehingga, Kita turunkan, GWM-nya. GWM-nya, 9 kan awalnya, Dia menjadi, 7 sekarang,” kata Firman.

Firman menjelaskan, salah satu komponen penyesuaian tersebut dilakukan dengan menurunkan GWM sebesar 1%, yang menurut perhitungannya dapat menambah likuiditas perbankan sekitar Rp90 triliun.

Sementara itu, komponen lainnya berkaitan dengan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Firman menjelaskan bahwa dana dalam komponen tersebut sudah berada di perbankan, tetapi penyesuaiannya diharapkan memberikan fleksibilitas lebih besar bagi bank untuk memanfaatkan likuiditas yang tersedia.

Sementara itu, Firman bilang Deposit Facility merupakan bagian dari fasilitas simpanan (standing facility) BI yang menjadi batas bawah koridor suku bunga pasar uang antarbank (PUAB). Suku bunga tersebut menjadi salah satu instrumen BI untuk mengarahkan pergerakan suku bunga pasar uang agar sejalan dengan BI Rate.

“DF ini adalah bagian dari bagaimana Bank Indonesia ingin mengarahkan suku bunga PUAB. Suku bunga PUAB itu adalah sasaran operasionalnya Bank Indonesia,” kata Firman.

Dia menjelaskan, sebelum penyesuaian, BI Rate berada di level 5,75%, sedangkan suku bunga Lending Facility (LF) sebesar 6,5% atau 75 basis poin di atas BI Rate. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility sebelumnya sebesar 4,75%, atau 100 basis poin di bawah BI Rate.

Melalui kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 5%, BI berupaya membuat koridor suku bunga lebih simetris, yakni masing-masing berjarak 75 basis poin dari BI Rate.

“Sekarang kita naikkan dia 25 menjadi 75. Mengapa ini kita lakukan? Kita ingin agar sinyal dari BI Rate itu akan bergerak simetris di dalam koridor yang 75 tadi. Bersamaan dengan kita menyeimbangkan likuiditasnya,” ujar Firman.

Menurutnya, penyesuaian tersebut diharapkan membuat pergerakan suku bunga pasar uang antarbank lebih sejalan dengan BI Rate, sehingga transmisi kebijakan moneter dapat berlangsung lebih efektif ke sektor perbankan, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi.

Bank Indonesia (BI) menambah likuditas perbankan untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat. Caranya dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank konvensional dan bank syariah secara bertahap.

Bagi bank konvensional, GWM akan turunkan dari 9% menjadi 7% secara bertahap. Penurunan dari 9% menjadi 8% mulai 1 November 2026. kemudian turun lagi menjadi 1% menjadi 7% mulai 1 Desember 2026.

Bagi bank syariah dan unit usaha syariah (UUS) diturunkan dari 7,5% menjadi 5,5%. Penurunan dari 7,5% menjadi 6,5% dilakukan mulai 1 November 2026. Penurunan 1% menjadi 5,5% dilakukan pada 1 Desember 2026.

Penurunan GWM juga diikuti dengan penurunan besar kebijakan insentif likuiditas makroprudensial yang turun dari 6% menjadi 5% berlaku mulai 1 Desember 2026.


(ell)

No more pages