Pendapatan Daerah
Dia meyakini persoalan tersebut memiliki efek domino terhadap pendapatan daerah, yakni terdapat potensi turunnya retribusi daerah penyerapan tenaga kerja lokal, serta perputaran ekonomi regional yang selama ini mendongkrak pendapatan masyarakat sekitar.
“Pemerintah perlu mengantisipasi potensi deviasi dari target penerimaan sektor pertambangan dalam APBN, mengingat sensitivitas penerimaan negara terhadap siklus komoditas global,” ungkap Wahyu.
Bagaimanapun, Wahyu meyakini jika pemangkasan produksi MHP tersebut terjadi maka volume ekspor produk olahan nikel kelas 1 bakal terkontraksi.
Meskipun begitu, dia mencatat ekspor MHP Indonesia tak sebesar volume ekspor feronikel (FeNi) dan nickel pig iron (NPI).
“Sektor nikel telah menjadi salah satu motor utama penopang surplus neraca perdagangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan produksi dari pemain-pemain besar HPAL berpotensi mengurangi surplus tersebut, terutama di tengah volatilitas permintaan global,” kata dia.
Para petinggi sejumlah produsen nikel China berencana untuk bertemu paling cepat Selasa (20/10/2026) guna membahas pengurangan produksi secara terkoordinasi di pabrik bahan baku baterai mereka di Indonesia.
Perusahaan-perusahaan tersebut—termasuk Tsingshan Holding Group Co, GEM Co, Lygend Resources & Technology Co, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co—berencana untuk menetapkan skala pengurangan produksi yang diperlukan.
Rencana tersebut rencananya ditempuh sebab lemahnya harga logam telah menekan profitabilitas operasi HPAL mereka, pertemuan tersebut menyusul diskusi serupa pada Agustus lalu yang tidak menghasilkan kesepakatan.
Menurut sumber Bloomberg News, perusahaan-perusahaan itu kemungkinan akan membahas pengurangan produksi berdasarkan tingkat operasional saat ini.
Detail rencana tersebut masih bisa berubah dan belum ada jaminan bahwa pertemuan akan terlaksana atau kesepakatan akan tercapai.
Sekadar catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat setoran penerimaan negara dari sektor nikel mencapai Rp21 triliun per 31 Agustus 2026, naik cukup signifikan dengan perolehan PNBP nikel pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10 triliun.
Adapun, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) meramal produksi olahan nikel sepanjang tahun ini bakal turun sekitar 3,5%—4% menjadi 2,4–2,41 juta metrik ton nikel (Ni), dari realisasi sepanjang 2025 sebesar 2,5 juta ton Ni.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyatakan penurunan produksi tersebut dipengaruhi menurunnya produksi NPI gegara penurunan utilitas dan pengalihan tanur untuk memproduksi nickel matte.
Kemudian, penutupan tanur pada semester II-2026 guna mengalihkan pasokan listrik untuk produksi aluminium.
Sementara itu, bagi smelter HPAL, kenaikan harga sulfur dan harga bijih limonit yang sempat terjadi menekan operasional pada tahun ini. Kondisi tersebut, kata Arif, diperparah dengan kurangnya pasokan air akibat fenomena El Nino.
“FINI mengestimasi bahwa total produksi nikel olahan Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan mengalami penurunan sekitar 3,5% hingga 4% jika dibandingkan produksi 2025 sebesar 2,5 juta ton Ni,” kata Arif kepada Bloomberg Technoz, Rabu (14/10/2026).
Lebih lanjut, Arif mencatat realisasi produksi nikel olahan hingga Agustus 2026 mencapai 1,7 juta ton Ni dari smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) dan sekitar 270.000 ton Ni dari smelter HPAL.
(azr/wdh)




























