Naiknya DPK di segmen ini tertopang oleh giro yang tumbuh 11,69% yoy jadi Rp1.514,9 triliun, tabungan naik 24,37% jadi Rp1.675,1 triliun, dan deposito bertambah 20,98% jadi Rp1.330,9 triliun.
Sementara stagnasi terjadi di bank swasta terjadi di tengah kondisi yang lebih menantang. DPK kelompok ini tercatat Rp4.036,7 triliun, nyaris tidak berubah dibandingkan Agustus 2025 yaitu Rp4.036,4 triliun.
Di balik stagnasi itu, komposisi simpanan di segmen ini juga berubah. Giro naik 11,67% yoy jadi Rp1.777,4 triliun. Sebaliknya, tabungan turun 5,06% jadi Rp1.208,8 triliun, dan deposito menyusut 3,42% jadi Rp1.650,4 triliun.
Peningkatan giro di segmen ini belum cukup untuk mengimbangi penurunan tabungan dan deposito. Secara nominal, tabungan di bank swasta ini tergerus Rp64,4 triliun dan deposito turun Rp58,4 triliun, jika ditotal turun sebesar Rp122,8 triliun.
Sementara kenaikan giro Rp123,1 triliun. Sehingga hampir impas, dan menggambarkan adanya stagnasi DPK di segmen ini.
Dari persepektif pendanaan, deposito kerap menjadi sumber dana yang dianggap lebih stabil untuk menopang likuiditas bank. Jika deposito menyusut, bank perlu memastikan ada sumber dana lain yang bisa menopang kebutuhan pendanaan secara berkelanjutan.
BPD Kontraksi & BPR Menantang
Tekanan paling nyata terjadi di segmen BPD. Simpanan di kelompok ini bahkan turun 3,94% yoy jadi Rp760,9 triliun pada Agustus.
Penurunan itu terlihat pada giro yang menyusut 10,76% yoy (-Rp24,9 triliun) jadi Rp206,1 triliun. Selain itu, deposito juga turun 5,96% (-Rp19,3 triliun) jadi Rp304,6 triliun.
Sementara tabungan masih tumbuh meski hanya single digit 5,48% jadi Rp250,2 triliun atau hanya bertambah Rp13 triliun. Jadi, bisa dikatakan pertumbuhan tabungan di segmen BPD belum mengimbangi penurunan yang terjadi pada giro dan deposito.
Keringnya likuiditas di segmen ini juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah pusat yang memangkas transfer ke daerah (TKD).
Selain BPD, Bank Perekonomian Rakyat (BPR) menjadi kelompok yang pertumbuhan simpanannya juga perlu menjadi perhatian. Pada Agustus, DPK di BPR naik tipis 0,75% jadi Rp156,7 triliun yoy. Kenaikan ini terdiri dari tabungan naik 3,3% jadi Rp49,1 triliun, tetapi deposito turun 0,37% jadi Rp107,6 triliun.
Dari sisi komposisi, deposito mencakup sekitar 68,7% dari total simpanan BPR. Artinya, sebagian besar simpanan kelompok ini terkonsentrasi dalam bentuk deposito berjangka, sedangkan tabungan hanya menyumbang 31,3%.
Sejalan dengan data Survei Perbankan BI, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sepanjang semester I-2026 menunjukkan total nominal simpanan BPR dan BPRS per Juni tercatat Rp181,78 triliun (naik 4,18% yoy), dengan porsi deposito mencapai 70,45%.
Gambaran pertumbuhan DPK secara agregat di industri perbankan tidak merata. Ekspansi yang kuat di bank persero sedangkan bank swasta stagnan, dan BPD justru tersengal-sengal. Sementara BPR masih naik meskipun single digit dan mengalami penurunan deposito.
Kondisi ini menyiratkan adanya tantangan sektor perbankan untuk bisa meraup pendanaan dengan biaya yang wajar, dan tersedia saat dibutuhkan. Pesaingan sektor ini dalam mengumpulkan DPK bisa menjegal target pertumbuhan kredit.
Untuk itu, BI memberikan insentif likuiditas dalam bentuk penurunan GWM. BI memperkirakan penurunan GWM rata-rata itu bisa menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun.
Dengan bantuan insentif itu, harapannya perbankan tak perlu berburu DPK dengan menawarkan suku bunga tinggi yang pada akhirnya berpotensi menggerus margin keuntungan bank atau membuat biaya kredit ke sektor riil jadi lebih mahal.
(dsp/aji)
































