Logo Bloomberg Technoz

“Kami mengalami gelombang panas berulang yang—bahkan tanpa tambahan panas akibat pemanasan yang disebabkan aktivitas manusia—sudah berbahaya. Namun, tambahan panas dari pemanasan tersebut membuat kondisi ini menjadi sangat, sangat berbahaya,” kata Clair Barnes, peneliti cuaca ekstrem dan perubahan iklim di Imperial sekaligus penulis utama studi tersebut, dalam sebuah wawancara.

Negara-negara Eropa mengalami suhu ekstrem sepanjang musim panas. Gelombang panas dimulai pada Mei dan berlanjut hingga September, dengan rekor suhu terlampaui dalam selisih yang signifikan di banyak negara. Suhu rata-rata di Eropa Barat hampir 3 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata musim panas pada periode 1991–2020. Pada beberapa hari, suhu bahkan mencapai 12 derajat Celsius di atas rata-rata tersebut.

Di seluruh benua, infrastruktur penting turut terdampak. Kebakaran hutan menghancurkan rumah-rumah, suhu di rumah sakit meningkat hingga berlebihan, layanan transportasi terganggu, serta sistem pendingin pada lemari es dan pendingin udara mengalami kegagalan.

PDB Prancis tercatat 0,2 poin persentase lebih rendah pada kuartal II akibat panas ekstrem, menurut Ulrich Eberle, penulis laporan Bloomberg Economics. Perekonomian Jerman menyusut 0,1 persen selama periode yang sama, sedangkan Spanyol mengalami penurunan PDB sebesar 0,05 persen akibat panas.

Studi yang dilakukan Imperial College London bersama London School of Hygiene & Tropical Medicine tersebut mencakup 854 kota di 30 negara, yakni negara-negara Uni Eropa, Inggris, Swiss, dan Norwegia. Wilayah yang diteliti mencakup sekitar 40 persen dari total populasi negara-negara tersebut.

Studi itu menemukan bahwa jumlah kematian akibat panas yang terkait dengan perubahan iklim terus meningkat dari waktu ke waktu seiring emisi bahan bakar fosil mendorong kenaikan suhu. Perubahan iklim berkontribusi terhadap hampir dua pertiga dari jumlah kematian berlebih pada musim panas tahun ini, meningkat dibandingkan sekitar 40 persen pada 2003.

Menghitung jumlah kematian akibat panas bukanlah perkara mudah karena orang jarang meninggal secara langsung akibat paparan suhu tinggi. Sebaliknya, suhu ekstrem biasanya memberi tekanan tambahan pada tubuh dan memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada, terutama penyakit jantung dan gangguan pernapasan. Mengukur suhu inti tubuh seseorang secara akurat juga sulit dilakukan di luar lingkungan rumah sakit. Jika seseorang meninggal sendirian di rumah, tidak selalu jelas bagaimana atau apakah panas turut berperan dalam kematiannya. Akibatnya, kematian terkait panas tidak selalu tercatat sebagai kematian akibat panas.

“Kami sering melihat pasien lanjut usia mengalami kebingungan, stroke, atau gangguan jantung, ketika panas mungkin menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap kematian mereka,” kata Andrew Hartle, konsultan perawatan intensif di Imperial College Healthcare NHS Trust, dalam konferensi pers pada Rabu. “Pemeriksaan postmortem tidak akan memberi tahu Anda apakah seseorang mengalami kepanasan atau tidak.”

Studi Imperial menggabungkan catatan suhu dengan temuan penelitian sebelumnya yang menghitung dampak tingkat panas terhadap angka kematian untuk memperkirakan jumlah kematian terkait panas. Menurut para penulis, metode ini sebelumnya menghasilkan perkiraan yang sejalan dengan statistik resmi. Namun, banyak data resmi tersebut belum dirilis oleh otoritas kesehatan pemerintah untuk keseluruhan musim panas 2026.

“Kita jelas perlu membantu mereka yang paling berisiko, termasuk warga lanjut usia, orang yang sakit, dan mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu. Kita juga harus bertindak untuk mencegah lumpuhnya infrastruktur yang menjaga keselamatan kelompok rentan saat cuaca panas,” kata Toby Perkins, Ketua Komite Audit Lingkungan Inggris.

Tahun depan diperkirakan akan lebih panas dibandingkan 2026. Pemanasan global kini hampir dipastikan melampaui 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat pada masa praindustri, sehingga dunia harus berfokus untuk meminimalkan besarnya pelampauan batas tersebut, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu.

(bbn)

No more pages