Kehadiran pusat hilirisasi ini diproyeksikan mampu membuka banyak lapangan pekerjaan baru, meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) daerah, serta mengerek pendapatan masyarakat setempat.
"Kenapa tidak kita lakukan di Jakarta? Kita ingin daerah juga harus mendapatkan bagian dalam pemanfaatan sumber daya alam mereka," kata Bahlil menegaskan alasannya.
Eksplorasi Agresif
Dalam upaya menjaga kelangsungan pasokan gas masa depan, pemerintah mengapresiasi langkah masif yang dilakukan oleh perusahaan migas asal Italia, Eni SpA melalui perusahaan patungan atau joint venture (JV) bersama raksasa migas Malaysia, Petronas, yaitu Searah.
Menurut Bahlil, Searah dan Eni tercatat telah menggelar survei seismik seluas 12.000 kilometer persegi dengan nilai investasi mencapai sekitar US$100juta; salah satu survei terbesar dalam sejarah eksplorasi migas di Indonesia.
Selain itu, pemerintah meresmikan nilai investasi baru dari kemitraan tersebut yang mencapai sekitar US$840 juta.
Bahlil menilai eksplorasi agresif merupakan kunci utama untuk meningkatkan produksi siap jual (lifting) migas nasional di tengah penurunan alami dari sumur-sumur tua.
Upaya ini dipandang sangat krusial guna mengikis ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dan mempercepat pencapaian target swasembada energi nasional.
Untuk mendukung iklim investasi tersebut, Bahlil menjamin bahwa pemerintah siap menuntaskan berbagai hambatan regulasi maupun operasional dengan mengedepankan prinsip keadilan dan saling menguntungkan.
"Aturan tetap kita pakai, win-win solution harus kita pakai. Kalian untung, perusahaan lokal untung, negara untung—harus sama-sama untung," tutur Bahlil.
Untuk diketahui, hilirisasi industri petrokimia berbasis gas alam di Indonesia terus mengalami akselerasi signifikan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas gas bumi di dalam negeri.
Pengalihan pemanfaatan gas dari sekadar komoditas ekspor mentah menjadi bahan baku feedstock industri ini menjadi fondasi utama dalam menekan ketergantungan impor produk kimia dasar.
Didorong oleh realisasi proyek-proyek investasi skala raksasa yang mengintegrasikan fasilitas pengolahan gas dan petrokimia modern.
Salah satu milestones utamanya adalah penyelesaian megaproyek hilirisasi migas dan petrokimia bernilai investasi sekitar US$3,9 miliar (sekitar Rp 62,4 triliun) di Cilegon, Banten milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI), anak perusahaan dari Lotte Group (perusahaan asal Korea Selatan).
Selain itu, pemerintah dan BUMN juga terus mengakselerasi pembangunan klaster petrokimia berbasis gas baru di wilayah timur Indonesia, termasuk potensi kawasan industri petrokimia di Teluk Bintuni dan Fakfak, Papua Barat, yang disiapkan untuk menyerap alokasi gas hingga puluhan tahun ke depan.
Sektor hilirisasi—termasuk petrokimia berbasis gas dan pengolahan mineral—berhasil mencatatkan realisasi investasi lebih dari Rp 147,5 triliun dalam kuartal pertama tahun ini.
Adapun, dengan bertambahnya kapasitas produksi pupuk (seperti amoniak dan urea) serta bahan plastik dasar domestik, program hilirisasi gas ini diproyeksikan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan dan industri nasional, tetapi juga menghemat devisa negara dalam jumlah besar.
(smr/wdh)




























