Logo Bloomberg Technoz

Tahap pertama dari sumur JNE#6 telah menyuplai sebesar 60 MMscfd, sedangkan fasilitas produksi pendukung berikutnya siap mengalirkan gas tambahan sebesar 230 MMscfd pada akhir bulan ini.

Sebelumnya, produksi eksisting sebesar kurang lebih 450 MMscfd telah berasal dari South Hub yang mencakup Lapangan Jangkrik dan Merakes.

Penambahan produksi baru sekitar 290—300 MMscfd disumbang oleh optimalisasi fasilitas serta proyek-proyek pengembangan satelit di area South Hub tersebut, sehingga total kapasitas produksi Eni pada akhir bulan dapat mencapai kisaran 750 MMscfd. 

“Hari ini berarti sudah disediakan sekitar 60 MMscfd, ditambah fasilitas yang siap untuk kita produksi lagi pada akhir bulan ini sebesar 230 MMscfd. Artinya, ini adalah penambahan sekitar 290 MMscfd,” ujar Bahlil.

Bahlil menegaskan volume pasokan baru tersebut sangat signifikan untuk menopang ketahanan dan memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.

“Ini adalah sebuah angka yang tidak sedikit, karena ini bisa meng-cover kebutuhan kita,” lanjutnya.

Dalam jangka panjang, pemerintah bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Eni memproyeksikan lonjakan produksi gas yang jauh lebih besar. Pengelolaan kawasan utara (Geng North) beserta temuan blok-blok baru diperkirakan bakal mendongkrak total produksi gas mencapai 3.000 MMscfd pada periode 2028–2029.

Selain gas bumi, pengembangan blok-blok migas tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan kondensat hingga 130.000 barel per hari (bph).

Kontribusi ini menjadi salah satu penopang utama dalam merealisasikan target lifting minyak dan kondensat nasional sebesar 900.000 hingga 1 juta bph pada periode 2029—2030, dari posisi saat ini yang berada di kisaran 600.000 bph.

“Kurang lebih pada 2028—2029 total produksi nanti kita untuk gas itu akan mencapai sekitar 3.000 MMscfd. Dan untuk kondensat itu kurang lebih sekitar 130.000 bph,” tutur Bahlil.

Guna memastikan target-target besar tersebut tercapai, Bahlil menginstruksikan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) serta Direktorat Jenderal Migas untuk mempercepat seluruh proses administrasi dan perizinan, termasuk persetujuan rencana pengembangan atau plan of development (PoD). 

Langkah percepatan ini dinilai krusial agar cadangan migas melimpah yang telah ditemukan dapat segera diproduksi dan dimanfaatkan secara optimal.

“Kata kunci dari sebuah proses eksplorasi dan konstruksi itu adalah kapan produksinya. Dan arahan Bapak Presiden, produksi itu kita tekankan sebagai bagian terpenting untuk melakukan percepatan,” pungkas Bahlil.

Sebagai informasi, pengeboran sumur Jangkrik North-East-6 (JNE-6) merupakan bagian dari proyek infill dan optimalisasi fasilitas operasional Eni SpA di Blok Muara Bakau, Kalimantan Timur. 

Pengeboran sumur pengembangan ini dilakukan untuk menahan laju penurunan alamiah cadangan gas di area South Hub serta memaksimalkan potensi cadangan hidrokarbon yang masih ada di sekitar struktur Lapangan Jangkrik.

Hasil uji produksi gas sebesar 60 MMscfd ini akan ditujukan untuk memperkuat keandalan pasokan energi nasional maupun pemenuhan komitmen LNG.  

Adapun, gas dari sumur JNE-6 disalurkan langsung menuju Fasilitas Produksi Terapung atau Floating Production Unit (FPU) Jangkrik.

(smr/wdh)

No more pages