Logo Bloomberg Technoz

Teuku juga mengungkapkan bahwa sebanyak 9,5% dari investasi yang masuk ke Indonesia pada 2025 mengalir ke sektor ekonomi kreatif. Sementara itu, sektor tersebut menyumbang sekitar 12% dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Dia menilai capaian tersebut menunjukkan peran strategis ekonomi kreatif dalam perekonomian nasional. Meski demikian, pengembangannya masih menghadapi sejumlah tantangan yang membutuhkan kerja sama lintas sektor dan lintas negara.

Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan teknologi digital. Menurut Teuku, pemanfaatan teknologi perlu diarahkan untuk memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikan peran pelaku kreatif.

"Prinsipnya, kita ingin AI dan teknologi harus untuk memperkuat kreativitas, bukan untuk menggantikannya," ujarnya.

Selain menghadapi tantangan teknologi, pemerintah menyoroti perlunya memperluas akses pembiayaan dan pasar bagi pelaku ekonomi kreatif. Teuku mengatakan, komersialisasi kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) menjadi salah satu aspek penting untuk meningkatkan nilai ekonomi karya kreatif.

Persoalan lain adalah transparansi penghitungan pendapatan pada platform digital. Dia menyebut sejumlah kreator masih menghadapi ketidakpastian mengenai hubungan antara jumlah penonton dan pendapatan yang mereka terima dari platform.

Menurut Teuku, tantangan tersebut tidak hanya dihadapi pelaku ekonomi kreatif di Indonesia, tetapi juga di negara berkembang lainnya. Karena itu, WCCE menjadi forum untuk menyatukan aspirasi dan mendorong solusi bersama, khususnya bagi negara-negara Global South.

Indonesia Perkuat Peran di Forum Global

WCCE merupakan forum internasional yang diinisiasi Indonesia pada 2018 di Bali, saat Triawan Munaf menjabat sebagai Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Penyelenggaraan forum ini berlanjut di Dubai pada 2020, Bali pada 2022, dan Tashkent, Uzbekistan, pada 2024.

Teuku menjelaskan bahwa Indonesia telah dua kali membawa isu ekonomi kreatif ke Sidang Umum PBB melalui dokumen yang dihasilkan dari penyelenggaraan WCCE. Pemerintah berharap Jakarta Vision dapat melanjutkan upaya tersebut sekaligus memperkuat pengakuan internasional terhadap ekonomi kreatif.

Menurut dia, penyusunan Jakarta Vision melibatkan pelaku ekonomi kreatif, akademisi, pemerintah, asosiasi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dokumen tersebut dijadwalkan untuk dibahas bersama 38 kepala delegasi yang menghadiri WCCE 2026.

WCCE tahun ini mengusung tema Inclusively Creative: Collective Continuity, yang menekankan pentingnya kolaborasi dan kesinambungan dalam pengembangan ekonomi kreatif.

Jakarta Vision mencakup empat pilar utama, yakni teknologi, AI, dan transformasi digital; keberlanjutan, ekonomi sirkular, dan desain regeneratif; kekayaan intelektual, ekonomi berkeadilan, dan hak-hak pelaku kreatif; serta inklusi, ekosistem kreatif, dan pemberdayaan komunitas.

Keempat pilar tersebut diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pemerintah juga mendorong kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah untuk memperkuat ekosistem nasional sekaligus membuka peluang bagi karya dan kekayaan intelektual lokal untuk menembus pasar internasional.

WCCE ke-5 diikuti delegasi dari lebih dari 80 negara, perwakilan sejumlah organisasi internasional, ratusan pembicara dan moderator, serta ribuan peserta. Partisipasi pemerintah daerah juga menjadi bagian dari upaya memperluas pengembangan ekonomi kreatif di berbagai wilayah Indonesia.

(dec/red)

No more pages