Logo Bloomberg Technoz

Dia meyakini penguatan tersebut dipengaruhi rencana pemangkasan produksi oleh empat perusahaan smelter nikel di Indonesia.

Bahkan, jika pemangkasan benar-benar terjadi dan dilakukan secara besar maka nikel berpotensi menguji level US$17.500/mt.

“Saya lihat harga nikel masih berpotensi melanjutkan kenaikan jangka pendek, dalam kisaran US$16.500—US$17.000. Jika pemangkasan produksi benar-benar terealisasi dalam skala signifikan, harga berpeluang menguji area US$17.500,” kata Lukman kepada Bloomberg Technoz, Kamis (22/10/2026).

Risiko Oversupply

Kendati begitu, Lukman menegaskan saat ini pasar nikel global masih menghadapi risiko kelebihan pasokan (oversupply), sedangkan permintaan dari industri baja nirkarat dan baterai belum cukup kuat untuk mendukung reli yang berkelanjutan. 

“Kunci keberlanjutan reli adalah realisasi pemangkasan output, penurunan pasokan dan kenaikan permintaan. Jika rencana pemangkasan tidak terealisasi atau skalanya lebih kecil dari ekspektasi, harga akan kembali terkoreksi,” tegas Lukman.

Sebelumnya, para petinggi sejumlah produsen nikel China berencana untuk bertemu pada Selasa (20/10/2026) guna membahas pengurangan produksi secara terkoordinasi di pabrik bahan baku baterai mereka di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan tersebut—termasuk Tsingshan Holding Group Co, GEM Co, Lygend Resources & Technology Co, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co—berencana untuk menetapkan skala pengurangan produksi yang diperlukan.

Rencana tersebut rencananya ditempuh sebab lemahnya harga logam telah menekan profitabilitas operasi ssmelter berbasis high pressure acid leach (HPAL) mereka. Pertemuan tersebut menyusul diskusi serupa pada Agustus yang tidak menghasilkan kesepakatan.

Menurut sumber Bloomberg News, perusahaan-perusahaan itu kemungkinan akan membahas pengurangan produksi berdasarkan tingkat operasional saat ini.

Detail rencana tersebut masih bisa berubah dan belum ada jaminan bahwa pertemuan akan terlaksana atau kesepakatan akan tercapai.

Logam ini sempat melonjak hingga 2,7% hingga menembus angka US$16.000/mt di London Metal Exchange (LME), melanjutkan tren kenaikan sejak mencapai level terendah dalam sembilan bulan pada Kamis lalu.

Per hari ini, harga logam nikel di LME telah tembus US$16.234/mt atau menguat 3,65% dari penutupan hari sebelumnya.

Sebagai gambaran, pasar nikel global diramal mulai masuk kondisi defisit pada 2030 setelah dalam beberapa tahun sebelumnya masih mencatat surplus.

Kondisi tersebut diprediksi menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan harga nikel dalam jangka panjang.

BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, memprediksi pasar nikel mencatat defisit 25.000 mt pada 2030, setelah masih mencatat surplus 75.000 mt pada 2026, 70.000 mt pada 2027, 110.000 mt pada 2028, dan 83.000 mt pada 2029.    

Lebih jauh, BMI memprediksi defisit pasokan nikel pada 2031 mencapai 173.000 mt, kemudian melebar menjadi 231.000 mt pada 2032. Pada saat yang sama, harga nikel diperkirakan mencapai puncaknya di US$22.000/mt pada 2032.

BMI memperkirakan peningkatan konsumsi logam nikel global bakal meningkat dalam jangka panjang, didukung oleh ekspansi sektor baja nirkarat dan percepatan transisi energi bersih.

BMI menyebut teknologi energi bersih, termasuk kendaraan listrik, sistem energi terbarukan, sistem penyimpanan energi baterai, dan komponen turbin angin, akan memberikan potensi kenaikan terhadap permintaan nikel.    

Pada 2026 saja, konsumsi nikel global diproyeksikan tumbuh 4,7% secara tahunan menjadi 3,77 juta mt, dengan produksi baja nirkarat menjadi penopang utama permintaan. Produksi baja nirkarat global juga tumbuh 5% secara tahunan pada semester I-2026.

Tren produksi baja nirkarat dunia terus menguat./dok. BMI

Meski demikian, pertumbuhan permintaan nikel untuk baterai menghadapi tantangan dari semakin luasnya penggunaan baterai lithium ferro phosphate (LFP). 

BMI mencatat penggunaan LFP di China mencakup 81,2% penjualan baterai EV pada 2025, dari 67,3% pada 2023. Dalam kaitan itu, BMI mencatat pada Agustus 2026 porsi baterai LFP di China mencapai 85,6% dari total baterai kendaraan listrik.

Dengan pasar yang mulai beralih dari surplus menuju defisit, BMI memperkirakan harga nikel bergerak lebih tinggi dalam jangka panjang.

Harga rata-rata diproyeksikan mencapai US$19.000/mt pada 2030, naik dari US$17.000/mt pada 2026. Harga kemudian diperkirakan meningkat menjadi US$21.500/mt pada 2031 dan kembali meningkat menjadi US$22.000/mt pada 2032.

(azr/wdh)

No more pages