Logo Bloomberg Technoz

Meredanya tekanan di pasar surat utang global, khususnya di Amerika Serikat (AS), ditopang oleh ekspektasi terhadap arah Federal Funds Rate (FFR). Probabilitas yang dihimpun Fedwatch mencatat pasar memperkirakan FFR bertahan di level 3,75-4%, dengan kemungkinan mencapai 83%. 

Penurunan yield ini juga ditopang oleh langkah Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan di 5,75%. Menurut Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi, kebijakan mempertahankan BI Rate bisa dimaknai sebagai hawkish hold lantaran disertai kenaikan deposit facility rate menjadi 5%. 

"Hal ini mengindikasikan bahwa BI khawatir terhadap efek ancaman MSCI terhadap nilai tukar. Sehingga, kami melihat probabilitas yang cukup tinggi untuk skenario BI Rate hike pada November atau Desember," sebut Lionel. 

Ia memperkirakan yield surat utang tenor 10 tahun akan bergerak di rentang 7,4-7,45% di tengah tekanan terhadap rupiah di kisaran Rp18.000-Rp18.100/US$.

Keputusan BI ini, menurut Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa, membuat kondisi pasar aset tetap cukup kondusif untuk menjalankan strategi akumulasi bertahap di pasar surat utang (INDOGB) terutama tenor 5-10 tahun. 

"Ambang batas BI yang relatif tinggi untuk kembali menaikkan suku bunga acuan mengurangi risiko penyesuaian yield ke atas dalam waktu dekat, di sisi lain investor asing semakin mengalihkan investasinya ke obligasi berdurasi lebih panjang," kata Jessica. 

Ia menambahkan, porsi kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN) tenor 5-10 tahun sudah naik jadi 41,29% per 13 Oktober lalu, dari 37,06% pada April. 

"Perkembangan ini memperkuat preferensi kami terhadap strategi akumulasi selektif pada tenor 5-10 tahun untuk memanfaatkan peluang carry yang menarik, meskipun volatilitas rupiah masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai," tandasnya. 

(dsp/aji)

No more pages