Sutopo menilai untuk mempertahankan harga logam nikel di atas US$18.000/mt, diperlukan penurunan persediaan global, berkurangnya utilisasi smelter, serta penguatan premi di pasar fisik.
“Mengapa harga belum tentu naik; permintaan lemah, bukan hanya pasokan berlebih. Stok LME sudah di atas 270.000 ton, sehingga memangkas pasokan bisa terserap stok,” kata Sutopo kepada Bloomberg Technoz, Kamis (22/10/2026).
Pengalaman Sebelumnya
Sutopo mencatat pengumuman pemangkasan produksi bijih nikel Indonesia pada Desember 2025 sempat mendorong harga logam nikel menjadi sekitar US$15.800/mt dari US16.500/mt. Harga kemudian sempat mendekati US$20.000/mt pada Mei sebelum turun ke sekitar US$16.000/mt pada Juli 2026.
Menurut Sutopo, perkembangan stok LME dan premi fisik, permintaan baja nirkarat dan baterai, serta risiko substitusi ke baterai lithium ferro phosphate (LFP) akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan kenaikan harga.
“Pelajaran dari pemangkasan bijih; terdapat pola umum yakni pasar bereaksi pada pengumuman, lalu menunggu bukti pengurangan nyata,” tegas Sutopo.
BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, sebelumnya mempertahankan proyeksi rata-rata harga logam nikel sepanjang 2026 di level US$17.000/mt, lantaran pasar nikel global yang masih mencatat surplus meski keseimbangan pasokan dan permintaan mulai mengetat.
Berdasarkan riset terbarunya, BMI meramal surplus pasar nikel diperkirakan menyusut menjadi 75.500 mt pada 2026, dari 284.000 mt pada 2025.
Akan tetapi, BMI menilai kondisi pasar yang makin seimbang tersebut masih belum cukup untuk membawa nikel ke posisi defisit.
Produksi nikel olahan global diproyeksikan turun 1% secara tahunan menjadi 3,84 juta mt pada 2026 akibat ketidakpastian kebijakan Indonesia dan mengetatnya ketersediaan bijih.
Sementara itu, konsumsi nikel global diperkirakan tumbuh 4,7% secara tahunan menjadi 3,77 juta ton pada 2026.
Dari sisi persediaan, gabungan stok on-warrant di LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) mencapai 349.000 mt per 30 September 2026, naik 24,6% sejak awal tahun.
Adapun, harga nikel rata-rata sepanjang tahun berjalan hingga 5 Oktober 2026 tercatat US$17.480/mt, tetapi harga terus tertekan hingga ke level US$15.665/mt pada 5 Oktober 2026 setelah menyentuh titik terendah tahun berjalan US$15.510/mt pada 2 Oktober 2026.
“Kami mempertahankan perkiraan harga nikel tahunan rata-rata 2026 pada level US$17.000/mt, karena sikap kebijakan Indonesia yang lebih akomodatif terhadap sektor nikel dalam negeri telah meredakan kendala pasokan bahan baku,” tulis BMI dalam riset terbarunya, Kamis (8/10/2026).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berencana memperketat moratorium pembangunan fasilitas smelter nikel baru yang menghasilkan produk setengah jadi.
Hal ini dilakukan meskipun kebijakan moratorium smelter nikel baru sejatinya telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 28/2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.
"Ke depan, untuk industri yang terlalu banyak menghasilkan bahan baku setengah jadi, kami akan laporkan ke Presiden. Penting bagi kita untuk mulai memilih mana industri yang tetap dilanjutkan dan mana yang perlu dimoratorium, supaya pengelolaan sumber daya alam tidak gila-gilaan," kata Bahlil dalam agenda Investor Daily Summit 2026, Rabu (7/10/2026).
Dia menambahkan pemerintah siap mengatur volume produksi smelter yang beroperasi guna menjaga kestabilan harga dan mengamankan cadangan nikel nasional untuk jangka panjang.
"Kalau harganya lagi anjlok, jangan kita banjiri pasar, nanti barang kita murah. Berbeda dengan sawit yang bisa di-replanting dan berbuah terus, nikel dan batu bara kalau diambil tidak bisa tumbuh lagi. Jadi tolong, ini harus kita jaga secara berkelanjutan untuk masa depan bangsa," tutupnya.
Nikel dilego di harga US$16.234/mt di LME pagi hari ini, menguat 3,65% dari penutupan hari sebelumnya.
(wdh)




























