Logo Bloomberg Technoz

Penurunan tersebut dilakukan secara bertahap. Untuk BUK, GWM diturunkan menjadi 8% mulai 1 November 2026 dan kembali menjadi 7% mulai 1 Desember 2026. Adapun GWM BUS dan UUS turun menjadi 6,5% pada 1 November 2026 dan menjadi 5,5% pada 1 Desember 2026.

Di saat yang sama, BI turut melanjutkan insentif untuk instrumen Swap Beli Lindung Nilai Konvensional kepada Bank Indonesia dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment melalui pengurangan premi sebesar 15% untuk tenor 3 bulan, 20% untuk tenor 6 bulan, dan 25% untuk tenor 12 bulan 

BI juga mempertahankan sejumlah instrumen makroprudensial, termasuk Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) pada kisaran 84%–94%, rasio Countercyclical Capital Buffer (CCyB) sebesar 0%, serta Rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 4%.

Selain itu, BI memperpanjang kebijakan pelonggaran rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) kredit atau pembiayaan properti hingga 31 Desember 2027.

Kebijakan tersebut memungkinkan pembiayaan hingga 100% dari nilai properti bagi bank yang memenuhi kriteria kredit bermasalah tertentu.

Di sisi lain, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 5,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Namun, suku bunga Deposit Facility dinaikkan menjadi 5%.

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas perekonomian dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," pungkasnya. 

(prc/ell)

No more pages